Agung Trihatmodjo, Sutradara Layar Lebar Pertama Asal Pontianak

Agung Trihatmodjo, Sutradara Layar Lebar Pertama Asal Pontianak

  Sabtu, 25 June 2016 10:23
REXA KHARSANDY/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Sutradara film Pontien: The Untold Story dan Jaladri Sang Pejuang, Agung Trihatmodjo belum puas. Dia masih ingin terus memproduksi film. Target ke depannya, dia mau meluncurkan empat film layar lebar lain, termasuk sequel dari Pontien.

REXA KHARSANDY, Pontianak

Sutradara film layar lebar pertama Kalimantan Barat ini bungkam kalau ditanya umurnya. Dia selalu mengatakan bahwa dirinya masih muda. “Kalau ada yang tanya, saya bilang saja masih 18 atau 17. Ha-ha-ha,” timpal Agung saat ditemui di rumahnya yang sekaligus tempat penyuntingan film-filmnya, Jumat (24/6).

Tak mudah untuk bertemu dengan Agung. Dia hanya dapat ditemui setelah pukul 18.00 hingga sahur. Bahkan, kali ini hanya bisa ditemui pada dini hari, sekitar pukul 01.00. Agung mengatakan, dia hanya beraktivitas pada malam hari. “Siang hari saya masih tidur,” tambah Agung diselingi tawa kami.

Agung sebenarnya tidak memiliki impian untuk menjadi sutradara film, melainkan menjadi aktor. Akan tetapi, lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini mengaku bahwa karena tampangnya yang kurang, dia beralih ke posisi lain dalam film, yakni kesutradaraan.

Walaupun tak berhasil tampil sebagai aktor film, dia menunjukkan bakatnya sebagai sutradara film. Agung membuktikannya dengan menyutradarai beberapa film pendek, FTV, hingga film layar lebar. Film pertamanya berjudul Elang Rajawali dengan durasi sekitar tiga menit.

Sebelum menghasilkan film layar lebar, Agung terlebih dahulu terjun ke pembuatan FTV. Agung menceritakan bahwa dia mengawali pembuatan film FTV dengan menggandeng salah satu stasiun televisi Kalbar untuk memproduksi FTV. Dari sana, muncullah layar FTV Kalbar, beberapa di antaranya, yakni Renjana, Salam Rindu Buat Khatulistiwa, dan Perempuan dalam Spasi.

“Waktu itu sempat terjadi perdebatan yang luar biasa dan beberapa film FTV-ku tak jadi tayang karena dianggap terlalu rasis. Itu karena aku membela kaum Tionghoa, ya begitulah,” ujar Agung terkait kegiatan di balik layar produksi.

Kemudian saat ditanya alasan terjun ke dunia perfilman dan bertahan di dalamnya, Agung mengatakan, dia sudah mulai cinta film sejak SMP dan terus berkembang saat menginjak bangku SMA.

Agung termotivasi setelah menonton film-film yang ditayangkan pada masa remajanya. Dia menambahkan, motivasinya semakin besar setelah ia menonton salah satu film drama komedi yang disutradarai Riri Riza, Nan Achnas, Indra Lesmana, dan Rizal Mantovani bernama Kuldesak. Selain itu, beberapa film luar negeri yang membuatnya semakin tertarik ke dunia perfilman adalah film The Godfather.

Dukungan orang tua serta teman-teman Agung membuatnya dapat bertahan dalam seni perfilman. Agung menambahkan, dukungan mereka juga sangat berharga dan menjadi motivasinya untuk terus berkarya hingga kini.

Selain itu, alasan Agung memilih untuk terus menyelami dunia perfilman adalah karena ia ingin mengubah dunia. Menurutnya, sebagian besar orang di dunia mengenal sejarah berdasarkan film. Dia menambahkan, orang mengenal nazi kejam setelah menonton film-film yang menampilkan Hitler sebagai sumber kejahatan dunia.

“Kapan pernah kita hidup lepas dari kepentingan? Tidak ada manusia yang bisa hidup lepas dari kepentingan,” jawab Agung.

Agung menambahkan, dia ingin menjadi layaknya presiden yang memiliki pengaruh di masyarakat yang luas. Menurutnya, ia dapat mengubah pola pikir, sejarah, dan kepentingan masyarakat melalui film. Ia menambahkan, film pun mampu mengubah pandangan masyarakat terhadap sesuatu. “Dari film Pontien, saya bisa menceritakan siapa sih sebenarnya Sultan Hamid itu,” ucap Agung.

Untuk target ke depannya, Agung membocorkan bahwa ada empat film yang akan dia garap, dan paling terdekat adalah film drama yang berdasarkan kisah nyata. Di film tersebut, ia ingin menceritakan tentang bagaimana seorang anak yang masih kecil berusaha mencari orang tuanya. “Untuk judul belum ada, tapi sekarang sudah ada soundtrack untuk filmnya,” tambah Agung.

Selain itu, tiga film lainnya adalah sequel dari film Pontien: The Untold Story, film tentang tatung dan film tentang Sultan Hamid. Agung menimpali, dari ketiga film tersebut, film mengenai Sultan Hamid masih dipikirkan. Berdasarkan perhitungannya, film tersebut bisa  menghabiskan dana sebanyak Rp15 miliar. “Jadi, saya lagi cari orang gila yang mau menghabiskan uangnya untuk pembuatan film tersebut,” ujarnya kemudian ditimpalinya dengan tawa.

Adapun, film mengenai tatung adalah film yang paling ingin ia selesaikan secepatnya. Agung mengatakan, produksi film tersebut hingga kini sudah 9 tahun belum selesai. “Belum beres karena tak ada dana,” tambahnya.

Walaupun sudah mengeluarkan film bertemakan horor dan rencananya juga bakal mengeluarkan sambungannya, Agung tak ingin dipanggil sebagai sutradara film horor. Dia lebih memilih menjadi sutradara yang netral. Dengan begitu, dia bisa membuat film dengan genre apapun tanpa terikat genre yang spesifik dengan sponsor.

Selain target film, dia berharap agar dapat menggandeng para sineas muda dan berbakat asal Kalbar. Ia ingin menjembatani para sineas muda tersebut untuk ikut terjun ke dunia film layar lebar sekaligus membawa harum nama Kalbar di kancah nasional maupun internasional.

Dia juga ingin membuka studio yang lengkap dan mampu memproduksi film layar lebar tanpa harus ke Jakarta. Hal tersebut bertujuan agar para sineas tak perlu jauh-jauh dan menghabiskan dana lebih besar untuk membuat film.

Adapun, Agung pun berharap ke depannya ia dapat membuka sekolah filmnya sendiri. “Untuk tempat masih belum tahu, tetapi targetnya tahun depan sudah mulai dikerjakan.”

 

Berita Terkait