Agar Petani Lebih Berdaya dan Sejahtera

Agar Petani Lebih Berdaya dan Sejahtera

  Selasa, 12 April 2016 10:16   2,324

Oleh : Abdul Aziz, SP

Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Damasyqi atau lebih dikenal sebagai Imam An-Nawawi rahimahullah berkata : “Profesi yang paling baik adalah pekerjaan yang dilakukan dengan tangannya. Sesungguhnya pertanian adalah profesi terbaik karena mencakup tiga hal utama. Pertama ia merupakan pekerjaan yang dilakukan dengan tangan, kedua dalam pertanian terdapat tawakkal, dan ketiga pertanian memberikan manfaat yang umum bagi manusia, binatang dan burung”. Pernyataan ini adalah bukti betapa dalam agama khususnya Islam sektor pertanian sangatlah potensial bagi kesejahteraan di dunia dan akhirat kelak. 

Bagi sebuah bangsa, sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Besarnya kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional tersebut diindikasikan dengan besarnya penyerapan tenaga kerja. Menurut Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Kalbar tahun 2014, penyerapan tenaga kerja di provinsi ini di dominasi sektor pertanian 57,76 persen, sektor industri 3,66 persen, sektor perdagangan 13,99 persen, sektor jasa sebesar 11,36 persen, dan sektor lainnya 13,23 persen. 

Selain berperan sebagai penyerap tenaga kerja, peran penting sektor pertanian yang lain yaitu memenuhui ketahanan pangan. Yang dimaksud dengan ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan (UU No. 18/2012 tentang Pangan). Bagi Indonesia, pangan sering diidentikan dengan beras karena jenis pangan ini merupakan makanan pokok utama. 

Dengan pertimbangan pentingnya beras tersebut, pemerintah selalu berusaha untuk meningkatkan ketahanan pangan terutama yang bersumber dari peningkatan dalam negeri. Alhamdulillah, untuk di Kalbar sendiri produksi beras petani tahun 2015 mengalami surplus hingga 200.000 ton. 

Meningkat 50.000 ton dari tahun 2014 sebesar 150.000 ton. Total produksi beras petani di Kalbar tahun 2015 mengacu pada data BPS sebesar 800.000 ton sedangkan kebutuhan lokal 600.000 ton pertahun. Dan poin terakhir dari pentingnya sektor pertanian adalah meningkatkan penerimaan devisa negara. Hal ini ditunjukkan oleh besarnya kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terutama pada masa-masa krisis ekonomi yang dialami Indonesia. Satu-satunya sektor yang menjadi penyelamat perekonomian Indonesia pada tahun 1997-1998 hanyalah sektor agribisnis, dimana agribisnis memiliki pertumbuhan yang positif. 

Untuk provinsi Kalimantan Barat, kontribusi sektor pertanian pada Nilai PDRB mencapai 25 persen dari total sekitar Rp 30 triliun (Kalbar dalam angka, 2011). Dari 25 persen tersebut subsektor tanaman pangan memberikan kontribusi tertinggi, di susul perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan. Sedangkan pada perhitungan PDRB atas dasar harga konstan 2000, nilai tambah yang dihasilkan pada triwulan III-2014 masih di dominasi oleh sektor pertanian sebesar Rp 2.178,23 miliar. 

Seiring dengan usaha-usaha pembangunan pertanian, muncul masalah-masalah baru yang dikemudian hari memperlambat laju perkembangan pertanian di Indonesia dan Kalbar tanpa terkecuali. Diantara Permasalahan itu adalah, pemilikan lahan yang sempit, manajemen usaha masih tradisional dan individual, anomali iklim, gangguan hama dan penyakit, keterbatasan informasi pasar dan teknologi, rumitnya pembiayaan usaha agribisnis, upaya pemberdayaan petani dan infrastruktur yang kurang memadai. 

Dengan melihat beberapa permasalahan sektor pertanian sebagai mana tersebut di atas, tentunya kita semua harus semakin berhati-hati sebab jika masalah tersebut tidak segera di atasi mungkin 5 hingga 10 tahun ke depan sektor pertanian tidak akan bisa lagi memenuhi kebutuhan pangan bagi seluruh masyarakat Indonesia sehingga bukan tidak mungkin krisis pangan pun akan bisa saja terjadi. Namun demikian setidaknya ada beberapa program yang bisa dilakukan guna mengantisipasi agar bangsa ini khususnya Kalbar terhindar dari rawan pangan, diantaranya : 

Pertama, perbaikan infrastruktur pertanian. Meliputi upaya-upaya perbaikan saluran irigasi, sistem pengairan dan pengolahan lahan yang efektif, pembukaan lahan baru, perbaikan jalan usaha tani, penyediaan sarana produksi pertanian yang cukup, pengembangan riset dan inovasi pertanian, serta upaya rintisan membuat kebijakan untuk mendukung reformasis agraria dan penciptaan lahan pertanian abadi. Penanganan masalah ini tentu tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan perlu kerjasama dan koordinasi yang baik dengan pihak-pihak yang bersangkutan.

Kedua, penguatan kelembagaan petani. Penguatan kelembagaan kelompok tani (poktan) ataupun gabungan kelompok tani (gapoktan) merupakan salah satu komponen pokok dalam keseluruhan rancangan Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (RPPK) tahun 2005-2025. Selama ini pendekatan kelembagaan juga telah menjadi komponen pokok dalam pembangunan pertanian dan perdesaan. Namun, kelembagaan petani cenderung hanya diposisikan sebagai alat untuk mengimplementasikan proyek belaka, belum sebagai upaya untuk pemberdayaan yang lebih mendasar. Kedepan, agar dapat berperan sebagai aset komunitas masyarakat desa yang partisipatif, maka pengembangan kelembagaan harus dirancang sesuai dengan cita-cita Permentan no 82 tahun 2013 tentang Pedoman Pembinaan Poktan dan Gapoktan. 

Ketiga, revitalisasi penyuluhan pertanian. Mulai dari penambahan penyuluh, perbaikan kelembagaan penyuluh dan programa dan metode penyuluhannya. Revitalisasi penyuluhan mutlak diperlukan mengingat eksistensi penyuluhan relatif terpinggirkan atau kurang mendapat prioritas pada era otonomi daerah, keberadaan penyuluh termarginalkan. Upaya ini mendapat payung hukum dengan hadirnya UU penyuluhan.

Keempat, fasilitasi pembiayaan pertanian. Peran sektor pertanian akan lebih optimal jika didukung dengan ketersediaan pembiayaan bagi pelaku usaha pertanian. Fungsi pembiayaan dalam tataran tingkat mikro (usaha tani), tidak hanya salah satu faktor produksi melainkan juga berperan untuk meningkatkan kapasitas dalam mengadopsi teknologi.  

Kelima, pengembangan pasar dan pemasaran hasil pertanian. Termasuk didalamnya adalah upaya-upaya peningkatan mutu dan nilai tambah melalui pengenalan teknologi pasca panen dan pengembangan industri olahan hasil pertanian, upaya mediasi dan promosi pemasaran dengan membuka akses dan fasilitas pemasaran. Melalui poktan dan gapoktan, petani dibina hingga memiliki akses terhadap informasi pasar dan penguasaan manajemen usaha tani. Pembinaan juga diberikan dengan paparan informasi tentang analisa supply-demand, perkiraan harga, prefensi konsumen, dan berbagai kebijakan pemasaran lainnya. Jika proses ini berlangsung sukses nantinya akan tercipta corporate farming. Dengan petani sebagai pemilik saham utamanya.        

* Pengurus PPN 
(Pekerja Petani Nelayan) 
Kabupaten Sambas