Agar Narapidana Punya Keterampilan

Agar Narapidana Punya Keterampilan

  Selasa, 15 March 2016 09:02
SIAP : Lapas Pontianak siap menerapkan rencana pengelolaan lapas seperti pabrik. DOKUMEN

Berita Terkait

Wacana Mengelola Lapas Mirip Pabrik

PONTIANAK - Rencana Direktur Jendral Pemasyarakatan, Kementerian Hukum dan HAM RI I Wayan Kusmiantha Dusak untuk menjadikan lembaga pemasyarakatan semacam pabrik untuk mengelola hasil produksi atau home industri warga binaan disambut‎ baik oleh Kanwil Menkumham Kalimantan Barat.

Kepala Devisi (Kadiv) Pemasyarakatan ‎Kanwil Menkumham Kalbar Darmadji mengatakan, produk atau kerajinan tangan warga binaan, khususnya warga Binaan Lapas Klas IIA Pontianak merupakan bagian dari pembinaan sekaligus bekal bagi warga binaan saat keluar kelak.

Menurutnya, selama ini pihaknya kesulitan untuk mencari orangtua asuh bagi warga binaan, seperti pemasaran produk hasil kejarinan tangan maupun model produk yang dihasilkan. “Padahal, jika kita lihat home industri ini sangat berpotensi. Untuk produknya sangat menarik, bahkan unik,” kata Darmadji dihubungi Pontianak Post, kemarin. 

Produk kerajinan tangan warga binaan Lapas Klas IIA Pontianak, kata Darmadji mendapat respon positif dari berbagai kalangan. Seperti halnya waktu pameran nasional yang diselenggarakan pada April 2015 lalu atau  Dalam beberapa pameran, tikar kayu ini juga dipasarkan seperti di International Sharia Economic Forum (ISEF) di Surabaya awal November 2014 lalu. Tikar ini dipajang di Stand Bank Indonesia Kalimantan dan habis diborong pembeli.  

“Respon pasar sangat bagus. Waktu pameran itu, produk kami laris diborong pembeli. Katanya produk yang dihasilkan tergolong unik,” beber Darmadji bangga. 

Menurut Darmadji, usaha home indutri warga binaan ini diharapkan akan berjalan dan berkelanjutan. Ia juga berharap agar produk yang dihasilkan memiliki hak paten. Jangan sampai produk hasil kerajinan tangan warga binaan ini diakui oleh pihak lain.  “Kami sudah memiliki merk dagang. Untuk tikar kayu misalnya. Kita beri nama La Ponti,” paparnya.

Secara terpisah, Edi Sunato, Kasi Kegiatan Kerja Lapas Klas IIA Pontianak mengatakan, pihaknya sudah siap jika rencana pemerintah untuk menjadikan lembaga pemasyarakatan menjadi semacam pabrik teralisasi. 

Menurut Edi, pembinaan semacam itu sudah diterapkan Lapas Klas IIA Pontianak sejak lama. Meskipun produk yang dihasilkan relatif kecil, namun sudah diterima oleh pasar. “Per bulan rata-rata 30-40 item, tergantung pasar,” kata Edi Sunarto kepada Pontianak Post, kemarin.

Untuk membuat satu tikar kayu misalnya.  Setidaknya butuh 13 proses yang harus dilakukan untuk menyulap bahan dasar kayu menjadi tikar kayu hingga sampai ke tangan konsumen. 

Pertama proses pembelahan, penyerutan, pemotongan stik, lalu dilanjutkan pengeboran, pemotongan manik-manik, penghalusan tahap pertama. Setelah itu dilakukan pewarnaan, pengeringan, dan pengeringan tahap kedua. Barulah kayu-kayu yang sudah berbentuk segiempat kecil itu dianyam. 

Proses pengayaman ini dilakukan oleh napi perempuan di sel mereka. Setelah itu dilanjutkan dengan pemberian cap/logo, dan finishing dan barulah dikemas.
Menurutnya terdapat beberapa ukuran tikar kayu dan yang paling banyak dibikin untuk ukuran 7 feet (220x180). 

Baginya, keterampilan yang diberikan di Lapas ini sangat membantu dan menjadi bekal untuk keluar nanti. Setiap orang yang mengerjakan maka akan diberikan upah. Misal saja untuk menganyam per tikar Rp60 ribu, untuk pemasangan motif Rp10 ribu, sementara untuk bagian pemotongan Rp15 ribu. Sekitar 48 orang terlibat dalam proses produksi tikar. 
Dikatakan Edi, selain home industri berbentuk kerajinan tangan, Lapas Klas IIA Pontianak juga melakukan pembudidayaan ikan dan perkebunan. “Di sini, selain kerajinan tangan juga ada budidaya dan perkebunan,” katanya. (arf)

 

Berita Terkait