Ada Warga Asing Masuk, Akan Terus Dibuntuti

Ada Warga Asing Masuk, Akan Terus Dibuntuti

  Senin, 20 June 2016 09:30
TEKS FOTO LANDSCAPE Kawasan La Castellane merupakan rumah masa kecil Zidane. Kawasan itu sebagai kawasan kumuh di pinggiran kota Marseille. Keluarga Zidane tinggal di sana sejak berimigrasi dari Aljazair pada 1953.--FOTO : MUHAMAD ALI/JAWAPOS

Berita Terkait

Proyek pembenahan di kampung kelahiran Zinedine Zidane membuat rumah dan lapangan tempat dia mengenal sepak bola tak bersisa lagi. Jadi sentra kriminalitas, kampung Zidane juga tak pernah sepi dari keributan.

BASKORO YUDHO, Marseille

PEREMPUAN itu langsung mengernyitkan dahi saat ditanya soal La Castellane. ”Serius, Anda ingin ke sana (La Castellane, Red)?” Tanya dia. 

Sejenak Corinn Roche, nama perempuan itu, menggeleng. ”Semua bentuk kejahatan ada di situ,” kata head of the press service di area Fan Zone Marseille itu. ”Prostitusi, transaksi narkoba, kekerasan. Lengkap. Lebih baik nggak usah ke sana,” ucap dia. 

Namun, rasa penasaran terhadap kampung kelahiran Zinedine Zidane itu membuat saya mengabaikan saran Roche. Kemarin (17/6) saya ”mampir” ke kawasan di Marseille yang hampir 20 persen warganya adalah penganggur itu. 

La Castellane, yang berada di utara Vieux Port atau pelabuhan lama Marseille, memang jauh dari kesan ramah. Wajah-wajah keras pria berkulit hitam mondar-mandir di depan pintu masuk La Castellane. Mural di tembok-tembok yang menggambarkan perlawanan terhadap penguasa dan rasisme juga terlihat di mana-mana.

”Lihat dari sini saja. Jangan coba-coba masuk,” kata Rudi Natamihardja, yang mengantar saya kemarin. 

Seperti yang juga disampaikan Roche, Rudi menyebut kawasan itu sangat rawan. ”Apalagi kalau lihat wajah-wajah Asia. Bakal jadi sasaran empuk kejahatan mereka,” ingat pria Indonesia yang tengah menempuh studi S-3 di Marseille itu. 

Rudi menuturkan, warga setempat memang sangat alergi dengan kedatangan orang asing. ”Mereka menghuni kawasan ini sejak 1960-an. Mereka hafal siapa pendatang dan siapa warga asli,” jelasnya.

Kalau tetap nekat masuk, lanjut Rudi, warga asing pasti ditanya tentang keperluannya dan siapa yang dicari. Itu belum cukup. Jika sudah menyampaikan keperluan dan orang yang ingin dituju, pengawasan tetap berjalan. 

”Kita akan dibuntuti sampai benar-benar positif ke tempat tujuan. Kalau ternyata kita nggak menuju alamat yang dituju, habislah kita,” lanjut pria yang sudah tujuh tahun berada di Marseille itu. 

Sikap protektif dan waspada terhadap orang asing memang harus dilakukan oleh warga Castellane. Sebab, Castellane memang kawasan peredaran narkoba terbesar di Marseille dan mayoritas penghuninya menjadi pengedar. 

Transaksi barang haram itu bisa dilakukan secara terang-terangan. Nah, karena banyaknya pengedar dan persaingan merebut pasar, tak heran jika sering terjadi pertikaian antargeng di sana. ”Makanya, kawasan ini tak pernah tenang. Selalu ada keributan. Nggak cuma berkelahi, tapi juga pakai senjata api,” ucapnya. 

Apakah pihak berwajib tak pernah bertindak? Operasi pemberantasan narkoba di kawasan itu sudah sering dilakukan. Tapi, hasilnya tak pernah maksimal. Menurut Rudi, hal itu terjadi karena jaringan narkoba sudah terlalu kuat. 

Jadi, kabar operasi selalu bocor duluan. Selain itu, di La Castellane, proteksi berlapis sehingga polisi hanya bisa menangkapi penjahat-penjahat kelas teri. 

Satu-satunya kebanggaan dari La Castellane, kawasan itu pernah melahirkan sosok Zinedine Zidane. Pahlawan Prancis pada Piala Dunia 1998 dan Euro 2000 itu memang tumbuh di kawasan yang dihuni imigran dari Afrika Utara tersebut.

Prancis memang tujuan utama pendatang dari kawasan Maghribi alias Afrika Utara. Juga, di antara semua kota, Marseille dengan posisi geografis menghadap Laut Mediterania merupakan pintu gerbang utama. 

Belakangan banyak negara di Eropa bagian selatan yang dibuat repot oleh mengalirnya pengungsi dan imigran, bukan hanya dari Afrika Utara, tapi juga Timur Tengah. Menurut UNHCR (badan PBB yang mengurusi pengungsi), jumlah pengungsi dan imigran mencapai sekitar 1 juta orang sepanjang 2015.   

Di La Castellane proyek Euromediterranee atau proyek pembangunan kawasan Mediterania telah menghancurkan jejak-jejak peninggalan Zidane, pahlawan Prancis pria yang kini menangani Real Madrid. Salah satunya rumah dua lantai di sebuah blok. 

Rumah itu memang sudah lama tak didiami keluarga Zidane. Maklum, mantan mahabintang Juventus dan Real Madrid itu meninggalkan Marseille sejak usia 15 tahun. ”Tak ada yang tersisa. Rumah dan lapangan kecil tempat Zidane biasa bermain bola sekarang sudah rata dengan tanah,” papar Stephane, perempuan yang bekerja di Z5, sebuah wahana hiburan dan olahraga milik Zidane. 

Zidane lahir di La Castellane pada 23 Juni 1972. Orang tuanya, pasangan Ismail dan Malika, beremigrasi ke Prancis pada 1953. Tapi, baru pada pertengahan 1960-an mereka berdomisili di La Castellane. 

Zidane adalah bungsu di antara lima bersaudara. Sepak bola mulai dia akrabi di ”sepotong” lapangan yang bernama Place Tartane. Karirnya mulai menemukan titik cerah saat dia direkrut Cannes pada usia 15 tahun, setelah digembleng di akademi yang dikelola Federasi Sepak Bola Prancis di Aix-en-Provence. 

Tapi, meski terus menjadi kebanggaan warga La Castellane, semua jejak Zidane itu tergusur. Menurut Stephane, proyek Euromediterranee tak hanya ingin menjadikan kawasan La Castellane lebih tertata. Tapi juga bertujuan mengurangi angka kriminalitas di sana. Sebab, bakal banyak warga Castellane yang harus pindah karena jadi korban penggusuran. ”Nanti akan banyak bangunan megah dan restoran-restoran mewah di sana. Kalau kawasan lebih tertata, kriminalitas mungkin agak reda,” jelasnya. (*/c11/ttg) 

Berita Terkait