Ada sejak 1850, Diaduk tanpa Henti Selama Empat Jam

Ada sejak 1850, Diaduk tanpa Henti Selama Empat Jam

  Sabtu, 2 July 2016 09:30
FAVORIT BERBUKA: Pembuatan bubur daging dilaksananakan setelah salat Duhur. SOPIAN SUMUT POS/JPG

Berita Terkait

Tradisi berbuka puasa dengan bubur daging di Masjid Nur Addin, Jalan Suprapto, Kota Tebingtinggi, ada sejak ratusan tahun lalu. Tradisi itu sudah ada pada masa kejayaan Kerajaan Padang di Masjid Raya.

SOPIAN, Tebingtinggi

SETIAP Ramadan datang, menu berbuka puasa itu selalu menjadi kegemaran warga. Pada Ramadan 1437 Hijriah ini, kenaziran Masjid Raya Nur Addin, Tebingtinggi, Sumatera Utara, kembali membuat bubur daging untuk disediakan kepada masyarakat yang berbuka puasa di masjid tersebut. 

Dalam sehari selama Ramadan kenaziran harus menyiapkan 250 mangkuk bubur daging. Memasak bubur daging adalah kebiasaan atau tradisi sejak ratusan tahun silam. Tepatnya saat Kerajaan Padang berjaya pada 1850. Bubur daging menjadi menu wajib berbuka puasa bagi warga Muslim Kota Tebingtinggi sampai sekarang.

Makanan berbahan dasar beras yang dicampur sari daging dan rempah-rempah tersebut menebarkan aroma yang menusuk hidung. Pembuatannya dilakukan sejak bakda salat Duhur dan daging selesai dimasak saat memasuki waktu salat Asar.

Untuk bahannya, kenaziran menghabiskan 6 kilogram beras, 1 kilogram daging segar, bawang goreng, daun seledri, daun sup, dam bumbu racikan sepesial kerajaan yang masih dipertahankan sampai sekarang. Yang paling unik, bubur dimasak dengan arang kayu. 

’’Tradisi ini kami buat setiap Ramadan sebagai menu berbuka puasa. Setiap hari banyak juga umat muslim yang menyiapkan tempat berupa rantang maupun mangkuk untuk mengambil bubur daging secara gratis untuk berbuka di rumah,’’ ungkap Khuzamri Amar, ketua kenaziran Masjid Raya Nur Addin Kota Tebingtinggi, kepada Sumut Pos (Jaringan Pontianak Post) belum lama ini.

Menurut dia, pembagian bubur daging gratis tersebut sudah menjadi tradisi di Masjid Raya Nur Addin. Walaupun sempat terhenti belasan tahun lalu, kini sejak dia memimpin kenajiran, tradisi memasak bubur daging kembali diaktifkan. ’’Memang, dulu sempat terhenti, tak ada aktivitas tradisi membuat bubur daging. Tapi, kini tradisi itu kami buat kembali. Ini tradisi dan jangan sampai memudar,’’ harapnya.

Di sisi lain, Candra, 45, salah seorang pemasak bubur daging, menjelaskan, dirinya memasak bubur daging dengan menu yang sudah disiapkan kenaziran. 

Memang, memasaknya membutuhkan kesabaran karena beras dicampur santan dan diaduk tanpa henti selama 4 jam. ’’Apabila kami tinggalkan sejenak, bubur akan gosong dan aroma khasnya menghilang. Dibutuhkan keuletan dan kesabaran dalam memasak buburnya,’’ ungkap Chandra.

Dia menerangkan, setiap hari dirinya harus memasak 4–6 kilogram beras. Kalau sudah menjadi bubur, biasanya porsinya menjadi 200–250 mangkuk. Bubur itu pasti habis setiap hari. Bubur daging tersebut, menurut Chandra, sangat kaya gizi. Setelah memakan semangkuk bubur daging sebagai menu berbuka, seseorang tidak akan makan lagi hingga masuk waktu sahur. (*/JPG/c5/diq)

Berita Terkait