Ada Miting di Pelang – Tumbang Titi

Ada Miting di Pelang – Tumbang Titi

  Rabu, 2 March 2016 10:55
JALAN RUSAK: Salah satu kendaraan terjebak lantaran harus melintasi ruas jalan yang mengalami kerusakan sedemikian parah di sepanjang ruas jalan Pelang – Tumbang Titi. (kanan) Sejumlah warga berinisiatif membangun jembatan darurat dari kayu, demi memudahkan kendaraan melintasi ruas jalan yang rusak. Namun untuk melintas, kendaraan-kendaraan harus bersedia membayar sejumlah tarif. AHMAD SOFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

KETAPANG – Hingga saat ini sejumlah ruas jalan Provinsi yang ada di Kabupaten Ketapang masih rusak parah. Salah satunya ruas jalan Pelang – Tumbang Titi.Di beberapa titik di jalan ini rusak parah, sehingga sangat sulit dilewati, khususnya kendaraan roda empat. Bahkan, warga yang kesal sampai harus meletakkan pohon pisang di tengah jalan yang rusak. Di sisi lain, tidak sedikit pula kondisi ini dijadikan kesempatan oleh segelintir warga untuk mengambil keuntungan.

Jalan yang seharusnya diperbaiki oleh pemerintah tersebut justru diperbaiki oleh warga. Namun, imbalannya setiap kendaraan yang melintas harus membayar. Pungutan liar ini dapat dijumpai di beberapa titik di sepanjang Jalan Pelang – Tumbang Titi.

Perbaikan yang dilakukan oleh pemerintah masih belum menuai hasil yang memuaskan. Masyarakat dari beberapa kecamatan yang melintas di jalan tersebut mengeluh. "Kapan jalan ini akan bagus? Sudahlah rusak, banyak miting-nya (pungli, Red) lagi," kata salah satu pengendara, Hari (26), beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, beberapa titik di jalan ini mengalami kerusakan sedemikian parah. Bahkan, warga yang kesal sampai menanami pohon pisang di tengah jalan. "Di Indotani itu sampai ditanam pisang dan keladi di tengah jalan. Itu adalah protes dari warga. Di Indotani itu memang rusak terus, belum pernah bagus," jelasnya.

Warga lainnya, Radjiman, juga mengeluhkan hal yang sama. Selain mengeluhkan jalan yang hancur lebur, ia juga mengeluhkan banyaknya aksi pungutan liar di jalan tersebut. "Miting bukan (hanya) satu atau dua, tapi banyak, hampir di tiap jalan rusak ada miting. Jalan Pelang ke Indotani, Pelang ke Kecamatan Jelai Hulu, dan Pelang ke Tumbang Titi juga ada," jelasnya.

Diceritakan dia, jika pengendara yang melintas tidak bersedia membayar, oknum warga yang melakukan pungli tidak segan-segan merusak kendaraan yang melintas. "Biasanya mobil digores pakai batu kalau tidak mau bayar. Itu kan sangat merugikan pengendara yang melintas," keluhnya.

Disebutkan dia jika penjaga miting kadang menetapkan tarif untuk setiap kali melintas. Untuk sepeda motor, menurut dia, biasanya dibanderol Rp1.000, sedangkan mobil biasanya Rp5 – Rp10 ribu. "Uangnya itu masuk ke kocek pribadi. Bahkan, ada yang dibelikan minuman keras oleh penjaga miting. Jadi, tidak ada manfaatnya," ujarnya.

Oleh karena itu, ia berharap agar pemerintah dapat segera memperbaiki ruas jalan yang menghubungkan ke beberapa kecamatan tersebut. "Meskipun jalan Provinsi, yang merasakan dampak negatifnya masyarakat Kabupaten. Kita harap ada koordinasi agar jalan-jalan dapat segera diperbaiki. Kalau jalan bagus, miting juga tidak ada," ungkapnya. (afi)

Berita Terkait