Ada Meting Rp150 Ribu di Kecurap

Ada Meting Rp150 Ribu di Kecurap

  Jumat, 13 May 2016 09:56
AMBLAS: Truk yang memaksa menerobos jalan yang rusak parah di Desa Kecurap Kecamatan MHU, amblas. AHMAD SOFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

KETAPANG-Kondisi ruas jalan Siduk-Nanga Tayap memprihatinkan. Kerusakan jalan dimanfaatkan oleh warga untuk mencari keuntungan. Perbaikan jalan yang tak kunjung dilakukan membuat warga memperbaiki sekedarnya dan memungut biaya bagi setiap kendaraan yang melintas.

Salah satunya di Desa Kecurap Kecamatan Matan Hilir Utara. Di salah satu titik di desa ini terdapat kerusakan jalan provinsi sangat parah. Kendaraan yang melintas, khususnya truk harus berhati-hati, jika tidak maka kendaraan bisa amblas dan menginap hingga berhari-hari.

Seperti halnya pada Selasa (10/5) lalu, satu truk tangki terbenam dan tidak bisa bergerak lagi. Hingga Kamis (12/5), truk tersebut masih belum ditarik juga. Tidak hanya truk tersebut yang tidak bisa melanjutkan perjalanan, namun puluhan kendaraan dari dan menuju Nanga Tayap tidak bisa melintas. Karena jalan tertutup badan truk yang amblas.

Alternatifnya, pengendara harus memutar arah dan harus melalui puluhan, bahkan ratusan kilo untuk bisa sampai ke tujuan yaitu, melewati Jalan Pelang-Tumbang Titi.

Namun, memutar arah bukanlah satu-satunya jalan untuk bisa sampai ke tujuan. Ada sekitar lima rumah warga di sekitar jalan yang rusak berinisiatif memberikan jalan kepada kendaraan yang melintas. Pemilik rumah membuka pagar halaman rumah mereka dan memperbolehkan kendaraan melintas, baik yang menuju maupun yang datang dari arah Nanga Tayap.

Akan tetapi, bisa melintas di halaman rumah orang tersebut bukan lah gratis. Memanfaatkan kondisi jalan yang rusak dan tidak bisa dilewati, serta tidak ingin halaman rumah mereka rusak percuma, pemilik rumah memasang tarif bagi kendaraan yang melintas. "Untuk truk kosong dan mobil kecil Rp50 ribu. Kalau ada muatan Rp150 ribu," kata warga pemilik halaman rumahnya yang dijadikan jalan.

Hal ini sudah berlangsung cukup lama dan berjalan lancar. Tidak ada komplain dari pengendara yang melintas. Bagi yang ingin melintas dan melanjutkan perjalanan dengan lancar, ya terpaksa harus mengeluarkan biaya. Sementara bagi pengendara yang memilih nekad melewati jalan pemerintah yang rusak parah, ya terpaksa harus beradu nasib. Jika nasibnya mujur, perjalanan bisa dilanjutkan. Sementara jika tidak, maka akan terbenam seperti truk yang sudah tiga hari tak bergerak di kubangan lumpur.

Seperti yang diungkap Burhan (25), salah satu supir perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Nanga Tayap. Ia mengaku lebih memilih membayar ketimbang harus memutar arah atau mungkin melewati kubangan lumpur. "Kalau ngantar bos, bos yang bayar. Tapi, kalau sendirian bayar pakai uang pribadi. Tapi, ada kwitansi. Jadi, bisa klaim ke kantor," katanya.

Menurutnya, ia tak sepenuhnya menyalahkan warga yang memungut biaya bagi kendaraan yang melintas di halaman rumahnya. Menurutnya, kesalahan juga terletak pada kurang tanggapnya pemerintah untuk segera memperbaiki jalan yang rusak. "Meting itu kan bukan di jalan pemerintah, tapi di halaman rumah mereka," jelansya.

"Jadi orang itu tidak memaksa. Jika ingin lewat, ya harus bayar, karena halaman rumah meraka juga rusak. Tak mau bayar, ya silakan lewat jalan pemerintah. Pemerintah juga salah, kenapa membiarkan jalan itu rusak dan tidak segera diperbaiki," tambahnya.

Berbeda dengan Burhan, Eman, lebih memilih memilih melewati jalan pemerintah dan enggan untuk membayar. Supir truk yang mengangkut CPO ini memilih menginap di jalan bersama puluhan supir truk lainnya. "Sudah dari kemarin pak nunggu truk yang di depan bisa ditarik," katanya.

Ia mengaku lebih memilih menunggu hingga berhari-hari di tepi jalan, karena pihak perusahaan tidak menerima klaim ganti rugi atas pungutan liar di jalan. "Kalau perusahaan siap ganti rugi, kami mau saja lewat dan membayar Rp150 ribu. Tapi, perusahaan tidak mau," ungkapnya.

Ia bersama puluhan supir lainnya terpaksa meningap dan tidur di tepi jalan sambil menunggu truk yang amblas bisa ditarik. "Tak tau sampai kapan. Mudah-mudahan bisa cepat ditarik. Kalau jalan bagus, kami tidak sengsara seperti ini," paparnya. (afi)

Berita Terkait