Ada Bunga Bangkai di Bukit Air Bintang

Ada Bunga Bangkai di Bukit Air Bintang

  Selasa, 30 Agustus 2016 09:30
BUNGA LANGKA: Tanpa sengaja tujuh pemuda menemukan bunga yang sangat jarang ditemui di Bukit Air Bintang, Desa Pangkalan Buton, Kecamatan Sukadana. Bunga tersebut lebih dikenal sebagai bunga bangkai.

Berita Terkait

SUKADANA – Tujuh pemuda tanpa sengaja menemukan bunga bangkai saat melakukan pendakian di Bukit Air Bintang, Desa Pangkalan Buton, Kecamatan Sukadana, Minggu (28/8) siang.

“Saat itu kami menemukan bunga tersebut di tengah perjalanan  menuju puncak Bukit Air Bintang di Desa Pangkalan Buton. Niat awalnya hendak menuju puncak pun kami batalkan, setelah keasyikan memperhatikan bunga yang sangat langka ditemukan,” cerita Sudirman, satu dari tujuh pemuda tersebut di Sukadana, Senin (29/8).

Ia menjelaskan, bunga yang memiliki nama latin Amorphophallus titanum ini dalam  kondisi yang kurang baik. Digambarkan dia, banyak bagian yang sudah mengalami kerusakan. Dia menduga kerusakan tersebut karena dimakan oleh binatang ketika melihat bunga langka tersebut. “Pada atas bunga sudah mulai membusuk seperti kena makan ulat,” katanya.

Dirinya menambahkan, bunga yang masuk dalam kelas Liliopsida ini ditemukan sedang dalam  fase vegetatif, di mana umbi bunga bangkai tumbuh batang tunggal dan daun mirip daun pepaya. “Yang jelas saat itu, kami temukan bunga mengeluarkan bau yang tidak sedap (busuk, Red),” ucapnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, bunga yang masuk dalam suku talas-talasan (araceae) ini juga sedang tumbuh di daerah  mentubang Desa Harapan Mulia. Berdasarkan foto yang dikirim melalui BlackBerry Massager (BBM) tersebut, masih  satu jenis dengan yang ditemukan di Bukit Air Bintang. “Saya mendapatkan informasi dari kawan saya. Kalau di Mentubang juga  sedang tumbuh bunga bangkai yang masih satu keluarga dengan yang ditemukan di Air Paoh,” terang Ika yang ikut dalam satu rombongan pendaki melalui BBM. 

Terpisah, kepala Resort Sukadana dan Cagar Alam Kepulauan Karimata Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalbar, Urai Iskandar, menjelaskan bahwa bunga bangkai (Amorphophallus) merupakan tumbuhan khas dataran rendah, yang tumbuh di daerah beriklim tropis dan subtropis. Disebutkan dia jika tanaman tersebut membetang mulai dari kawasan Afrika Barat hingga ke Kepulauan Pasifik, termasuk di Indonesia. Sebagian besar, dipastikan dia jika bunga bangkai merupakan spesies endemik. 

“Kalau untuk musim disesuaikan dengan  iklim yang cocok untuk tumbuh bunga bangkai itu sendiri. Untuk bunga bangkai setelah masa mekarnya lewat satu minggu, bunga bangkai akan layu dan akan mengulangi siklus hidupnya, dan tumbuh baru dengan  umbinya yang sudah mati. Dan untuk Siklusnya sendiri  memakan waktu kurang lebih 3 tahun,” sambungnya lagi. 

Lebih lanjut, Iskandar menerangkan bahwa bunga bangkai merupakan tumbuhan dengan bunga majemuk terbesar dan tertinggi di dunia. Dia menambahkan bahwa tanaman ini termasuk tananaman dari suku talas- talasan (araceae), dengan bentuk dan ukuran umbi yang bervariasi pada setia jenisnya. “Memang belum ada jenis hewan yang memangsa memakan bunga bangkai tersebut. Namun tidak menutup kemugkinan untuk baunya bunga tersebut dapat menarik serangga untuk dimangsa oleh bunga bangkai,” tutupnya. (dan)

Berita Terkait