Abu Sayyaf Minta Tebusan Rp 45 Miliar

Abu Sayyaf Minta Tebusan Rp 45 Miliar

  Sabtu, 20 Agustus 2016 10:29
FOTO AFP

Berita Terkait

PEMERINTAH dituntut bergerak lebih baik dalam membebaskan warga negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina.  Setelah M. Sofyan dan Ismail Tiro melarikan diri, nasib delapan WNI sandera lain masih tanda tanya. Seperti sebelum-sebelumnya, memberikan tebusan masih menjadi upaya paling ampuh yang bisa dilakukan. Proses negosiasi belum menunjukkan perkembangan menggembirakan Opsi serangan militer tidak akan bisa dilakukan karena itu akan mengusik kedaulatan Filipina. 

Padahal, operasi militer yang dilakukan Filipina juga kurang mengena. Kepala Direktorat Perlindungan WNI dan BHI Kemenlu Krishna Djelani menyatakan, keberadaan tujuh WNI sandera saat ini tidak terlacak. Kaburnya Sofyan dan Ismail diperkirakan membuat para penculik semakin ketat dan kejam dalam mengurus sandera. Dalam kondisi itu, mau tidak mau opsi pembayaran tebusan disiapkan. "Kita dengan pihak perusahaan terus mengupaya­kan proses pembebasan sandera. Negosiasi terakhir, untuk lima sandera, mereka meminta 150 juta peso atau sekitar Rp 45 miliar," ungkap Djelani. 

Perusahaan yang dimaksud adalah PT Rusianto Bersaudara, pemilik kapal TB Charles, yang tujuh karyawannya diculik. Dua sudah bebas, Sofyan dan Ismail. Sedangkan lima karyawan kapal TB Charles lainnya masih disekap. Nah, pihak PT Rusianto Bersaudara saat ini berkomunikasi dengan penyandera secara intens. 

Manajer Operasional PT Rusianto Bersaudara Joko mengatakan, perusahaannya masih melakukan negosiasi atas pembebasan sandera lain. "Pokoknya, kita berpikir bagaimana bebaskan mereka. Kami dan pemerintah akan mengupayakan hal tersebut," ucapnya. Untuk membantu keluarga, PT Rusianto tetap membayar hak-hak karyawan, baik berupa gaji maupun tunjangan. 

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi membenarkan, kaburnya Sofyan dan Ismail membuat upaya pembebasan sisa sandera lebih sulit. Di luar tebusan, pemerintah hanya bisa pasrah pada operasi militer yang dilakukan Filipina di kawasan selatan negeri mereka. "Kita akan melakukan yang terbaik untuk membebaskan mereka," ujarnya.(ful/JPG/bil/jun/dod/c9/ang) 

Berita Terkait