Abrasi Pantai Mengancam Warga Pesisir Paloh, Pengikisan Hingga 10 Meter, Digerus Air Pasang

Abrasi Pantai Mengancam Warga Pesisir Paloh, Pengikisan Hingga 10 Meter, Digerus Air Pasang

  Rabu, 10 February 2016 09:54
TINJAU ABRASI: Bupati Sambas bersama sejumlah jajaran SKPD memantau langsung kondisi abrasi di Kecamatan Paloh, kemarin.HARI KURNIATHAMA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Pasang laut di Desa Matang Putus, Desa Matang Danau, Kecamatan Paloh menyebabkan abrasi mencapai 10 meter. Akibatnya, tidak saja merusak persawahan dan perkebunan, tapi pasang laut juga merusak dua Tempat Pelelangan Ikan (TPI) pengusaha setempat. Hari Kurniathama, Paloh

Bupati didampingi Kadis Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kadis Pertanian dan Peternakan Sambas, Kadis PU BM, Camat Paloh, Kades kalimantan, Kades Matang Danau, Kades Nibung dan beberapa tokoh kecamatan Paloh bergegas memantau lokasi abrasi pantai. Terlihat titik-titik kerusakan akibat gelombang pasang di Desa Kalimantan dan sekitarnya, Kecamatan Paloh, Selasa (9/2).

Bahkan, rencananya Bupati Sambas segera mengontak pusat dan mengusulkan ke pemerintah pusat untuk program pembangunan pemecah ombak.Kadus Matang Putus Hauri'a, Selasa (9/2) mengaku khawatir dengan kondisi abrasi yang setiap tahun terjadi, karena pasang laut disertai ombak terus mengikis pantai hingga 5 meter pertahunnya, namun kali ini cukup meresahkan, sebab abrasi mencapai 10 meter dan badan jalan jadi semakin dekat dengan laut.

"Ada sekitar 225 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Matang Danau, yang paling dekat dengan laut RT 18, dimana ada sekitar 68 KK bermukim disana, sehingga masyarakat khawatir dan siaga," ungkapnya.Selain pembangunan pemecah ombak, warga juga berharap dibangunkan tanggul atau pintu air untuk mengalirkan air pasang laut dari sawah ke parit atau kanal-kanal. Sehingga air asin yang menggenang sawah masyarakat cepat mengalir.

"Air asin itu sangat tajam, tiga hari saja menggenangi sawah tentu cepat merusak padi, makanya warga harus melakukan panen padi lebih awal guna menghindari gagal panen akibat pasang laut ini," tegasnya.Hingga kemarin dan kini Selasa (9/2), warga telah bersiaga, karena pasang laut masih terjadi, akibatnya, selain merendam belasan hektar sawah dan menumbangkan ratusan pohon kelapa, air laut sekarang sudah menggenangi tanaman lada masyarakat, tidak itu saja, bahkan dua bangunan usaha TPI milik H Jawadi dan Herlan hancur dihantam ombak, makanya warga semakin khawatir dan siaga.

"Hasil diskusi bersama warga, solusinya memang pemecah ombak, jika tidak maka abrasi akan terus terjadi," ungkapnya. Senada dengan Iswan Ketua RT 18 juga membenarkan pernyataan Kadus Matang Putus, karena dari hasil diskusi warga saat meninjau TPI H Jawadi dan Herlan yang ambruk sekitar pukul 01.00 dini hari, solusi abrasi dengan di bangun pemecah ombak.

"Kalau ada pemecah ombak, kemungkinan hanya pasang laut yang dihadapi masyarakat, karena ombak telah pecah berbentur dengan penahan ombak seperti di Kecamatan Pemangkat, rumah warga hanya digenangi pasang laut tidak disertai ombak," ungkapnya.Akhmad saksi mata ambruknya dua TPI di desanya akibat ombak menuturkan, pasang laut dan ombak yang terjadi, Selasa (9/2) memang tidak sebesar pasang laut dan ombak, Senin (8/2), namun masih sempat merubuhkan dua bangunan TPI dan puluhan pohon kelapa.

"Kita berharap pemerintah segera mengambil sikap dan menampung aspirasi warga agar dibangun pemecah ombak, dan berharap pasang laut disertai ombak segera berakhir," harapnya.Terpisah, Suryadi Kadus Pantai Laut, Desa Matang Danau juga mengaku khawatir dengan pasang laut yang terjadi di Dusun Matang Putus, karena dusunnya berbatasan lansung dengan dusun Matang Putus dan berjarak sekitar 20 meter dari bibir pantai."Untuk dusunnya ada 56 kk, masyarakatnya nelayan dan petani, melihat kondisi Matang Putus, warga dusun kami juga siaga, karena jarak pantai berkisar 20 meter ke jalan raya yang merupakan pemukiman masyarakat," katanya. (*)

 

Berita Terkait