925.919 Butir Pil Jin dan Obat Penenang Dijual Bebas

925.919 Butir Pil Jin dan Obat Penenang Dijual Bebas

  Jumat, 11 Agustus 2017 16:39
Polisi menunjukkan penjual obat terlarang bersama barang bukti puluhan ribu obat daftar G. (Putra/Metropolitan/JawaPos.com)

Berita Terkait

BPOM melakukan operasi pemberantasan peredaran obat penenang dan obat keras yang dijual bebas di toko. Padahal penjualan obat itu sudah diatur ketat dan bahkan sudah tidak ada lagi izin edarnya. Dari 10 kota yang dirazia, ditemukan 13 jenis obat yang tidak boleh asal dijual.

Kepala BPOM Penny K. Lukito menuturkan, Kota yang menjadi sasaran razia tersebut yakni di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Banjarmasin, Mataram, Denpasar, Makassar, Serang, dan Palangka Raya.

Sasaran operasi pada Juli itu adalah obat-obat keras yang dijual di toko obat, toko kosmetik, dan toko kelontong. Hasilnya, ditemukan 13 jenis obat dengan total 925.919 pieces senilai Rp 3,1 miliar yang diduga melanggar ketentuan.

Obat ilegal yang sering disalahgunakan, antara lain, Hexymer, Dextromethorphan, Tramadol, Stronginal, Charnophen, Trihexyphenidyl, dan Somadril Compositum.

Obat-obat tersebut kini semakin populer dan digemari karena berfungsi hampir sama dengan narkotika sebagai penenang saraf serta mudah didapat. Harganya pun relatif lebih murah.

"Di Kalimantan Selatan, misalnya, penyalahgunaan Charnophen atau yang dikenal dengan pil jin itu tertinggi. Sekitar 76 persen penggunaan narkoba lainnya seperti ganja atau ineks," ungkapnya.

Kepala Pusat Penyidikan Obat dan Makanan BPOM Hendri Siswadi menambahkan, izin edar Charnophen sebenarnya sudah dicabut. Meski begitu, obat penenang tersebut tetap beredar. Bahkan, harganya lebih tinggi.

Dulu harganya hanya Rp 6 ribu untuk 10 butir, sedangkan sekarang bisa Rp 50 ribu di pasar gelap. "Biasanya dicampurkan kopi," ujar dia.

Selain itu, penggunaan obat keras yang dilarang juga beredar di Bima, Nusa Tenggara Barat. Bedanya, ditemukan banyak Tramadol. Dari hasil penyelidikan BPOM, cara membawa obat penenang tersebut tidak standar. Yaitu dibawa dengan karung yang diletakkan di dalam mobil dan diseberangkan dengan kapal. "Padahal, ada standar distribusi yang harus dipatuhi," ungkap dia.

(jun/and/c19/oki)

Berita Terkait