9 Ton Panen Padi Hazton di Singaraya

9 Ton Panen Padi Hazton di Singaraya

  Kamis, 11 February 2016 11:01
PANEN PERDANA: Kelompok Tani Harmonis Desa Singaraya, Kecamatan Semparuk, menggelar panen perdana padi teknologi hazton, Rabu (10/2) kemarin, di Desa Singaraya. HARI KURNIATHAMA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

SEMPARUK – Kelompok Tani Harmonis Desa Singaraya, Kecamatan Semparuk, menggelar panen perdana padi teknologi hazton, Rabu (10/2). Hadir dalam panen perdana tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Sambas, Kepala Bidang Pengelolaan Lahan dan Air Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Hortikultura Provinsi Kalbar; perwakilan Kodim 1202 Singkawang, Kepala BPS Sambas, Camat Semparuk, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Kabupaten Sambas, serta Ketua Gapoktan Fajar Sejahtera Desa Singaraya.

Dari hasil ubinan padi dengan teknologi hazton tersebut, didapatkan hasil yang memuaskan dibanding dengan teknologi konvesional yang biasa diterapkan kelompok tani. Diakui Jamhari, ketua Gapoktan Fajar Sejahtera Desa Singaraya, teknologi Hazton ini begitu membingungkan para petani yang berada di bawah binaannya. “Memang para petani masih kebingungan dengan teknologi ini, karena memang baru pertama kali kita terapkan,” ujarnya.

Tapi Jamhari sangat merekomendasikan teknologi ini. Dipastikan dia, semboyan teknologi hazton yang bisa mendongkrak hasil mencapai tiga kali lipat. “Alhamdulillah, dari panen perdana hari ini (kemarin, Red), kita dapatkan nilai produktivitas hasil panen kurang lebih 9 ton perhektarenya,” ungkap dia.Lebih lanjut Jamhari menyarankan agar para petani menerapkan teknologi hazton 20 sampai 25 ke atas. Artinya, kata dia, satu lubang ditanami minimal 20 benih atau lebih. Jika kurang dari jumlah tersebut, dia yakin, hasilnya akan sama seperti teknologi konvesional. “Jika di bawah 20 benih perlubangnya, yang kita sebut dengan banci, hasilnya tidak sama seperti yang kita tanami dengan 20 benih hingga 25 benih perlubangnya,” jelasnya.

Sementara itu, kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Sambas, Musanif, mengungkapkan jika teknologi yang satu ini merupakan salah satu teknologi tanam padi yang telah dikembangkan di Indonesia. Kata dia, ada beberapa teknologi guna mendongkrak produksi dan produktivitas pertanian di Indonesia. “Teknologi pertama kita sebut teknologi konvesional, yakni yang kebanyakan diterapkan petani kita selama ini, kedua SRI atau system rice intensitifikasi, yaitu satu lubang ditanami satu benih, dan teknologi hazton,” ungkapnya.

Semua teknologi tersebut jika diterapkan sesuai prosedur tanam yang telah dirumuskan, dipastikan dia, akan mencapai hasil yang diharapkan. Untuk teknologi hazton, diungkapkan dia, jika pada 2015, Kabupaten Sambas mendapat bantuan dari pemerintah melalui Pemerintah Provinsi Kalbar sebanyak 500 hektare. Jumlah itu, diakui dia, merupakan setengah bantuan program yang diguyurkan pemerintah untuk Kalbar di tahun 2015. “Alhamdulillah, pilot project bantuan dana perdana teknologi hazton, Kabupaten Sambas mendapat kepercayaan sebanyak 50 persen dari jumlah total bantuan untuk Kalbar, yakni 500 hektare dari 1000 hektare yang dialokasikan untuk Kalbar,” sebutnya.

Alokasi terbesar, diungkapkan dia, dibantukan ke Kecamatan Tebas sebanyak 250 hektare, kemudian 200 hektare dialokasikan di Kecamatan Semparuk, dan 50 Hektare dipercayakan ke Kecamatan Selakau. Musanif menuturkan, kunci keberhasilan semua program pertanian dalam rangka peningkatan produksi dan produktivitas pertanian adalah petani itu sendiri. “Kekompakan sangat penting, petani, kelompok tani, hingga gabungan kelompok tani harus bisa menjaga kekompakan. Dalam segala hal, misalnya dalam penjadwalan tanam, pembasmian hama, karena hama tidak bisa kita hindarkan, tetapi kita minimalisir,” ingat dia.

Musanif berterima kasih atas bantuan dari TNI AD dalam rangka mempercepat dan peningkatan produktivitas pertanian. Dalam menghadapi serangan hama, dia mengingatkan agar para petani bisa meminta bantuan dari TNI AD, bersama-sama gropyokan massal hama tikus.Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Kalbar melalui Kepala Bidang Pengelolaan Lahan dan Air, Heronimus, menerangkan jika teknologi hazton diciptakan dalam rangka meningkatkan hasil panen tiga kali lipat dari biasanya. “Di daerah lain, teknologi ini telah diterapkan, tidak hanya di Kalbar, dan hasilnya ada yang mencapai 16 ton perhektarenya. Hasil panen di Desa Gresik dan Singaraya ini, sudah sangat menggembirakan, walaupun sebenarnya ini adalah hasil minimal dari teknologi ini,” paparnya.

Guna memaksimalkan teknologi hazton, Hero, sapaan karibnya, mengingatkan bahwa prosedur atau cara tanam sangat menentukan. Kata dia, dari mulai pencemaian benih sudah harus dijaga. “Termasuk memindahkan benih ke lokasi tanam. Kebiasaan kita adalah ketika mencabut benih, akarnya dibersihkan. Ternyata itu sangat berdampak pada pertumbuhan padi, sehingga cara yang benar dan kita sarankan dalam penerapan teknologi hazton adalah ketika memindahkan benih ke lokasi tanam, benih tidak perlu dibersihkan, sehingga tanah asal pencemaian masih terbawa. Ini kita harapkan benih tidak stres,” ungkapnya.

Tahun 2015 jelas Hero, merupakan tahun perdana perkenalan teknologi hazton di Kalbar. Pemerintah Pusat, kata dia, mengucurkan bantuan sebanyak 1.000 hektare, di mana Sambas kebagian 500 hektare pada 2015. Disebutkan dia, Pemerintah Pusat menargetkan minimal terjadi peningkatan 1 ton dibanding teknologi biasanya. “Tahun 2016, kita mendapat bantuan dari pusat sebanyak 44 ribu hektare. Itu artinya, teknologi hazton di tahun 2015 dinilai Pusat sudah berhasil,” ujarnya. (har)

 

Berita Terkait