71 Tahun Indonesia Kerja Nyata

71 Tahun Indonesia Kerja Nyata

  Sabtu, 20 Agustus 2016 09:23   1

Oleh: P. Adrianus Asisi

JUDUL di atas diambil dari logo peringatan 17 Agustus 2016 lewat situs Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg). Dalam logo tersebut dijelaskan oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif bahwa konsep logo tersebut sebagai bentuk kerja nyata yang berkesinambungan. Paling tidak ada dua hal yang dijelaskan yaitu bilah baling-baling dan angka satu. Bilah baling-baling yang dinamis selalu berputar mendorong pesat ke depan, hal ini menunjukan komitmen pemerintah untuk kerja nyata dalam memajukan Indonesia.

Angka satu yang menembus bidang lingkaran mengarah ke kanan atas merupakan ajakan bagi seluruh lapisan masyarakat agar ber’satu’, bahu membahu bekerja menembus segala rintangan. Secara tampilan logo bernuansa modern dan sederhana dalam tampilan, menunjukan sikap pemerintah yang mengutamakan keterbacaan yang jelas atau transparan atau informatif dalam seluruh kerja nyatanya.

Dua paragraf tersebut di atas diambil dari situs indonesiabaik.go.id diakses 16 Agustus 2016, pk 15.00 WIB.  Makna dari logo tersebut secara singkat bahwa pemerintah Indonesia mengajak setiap lapisan masyarakat melalukan kerja nyata, bukan hanya wicara, tapi langsung bertindak, bukan hanya kerja tapi harus nyata. Sebagai refleksi kita bersama, sebelum mengulas kerja nyata oleh diri kita, mari kita lihat sejarah kerja di jaman penjajahan. Seperti apa itu, berikut ulasannya.

Kerja Zaman Penjajah

Jaman penjajah paling tidak ada dua kata yang dikenal yaitu kerja Rodi dan Romusha. Kerja Rodi terjadi pada masa penjajahan Belanda, sedangkan Romusha, terjadi pada penjajahan Jepang. Arti keduanya sama yaitu kerja paksa.

Mengapa? Antara lain, untuk mendukung Imprealismenya dan keperluan tenaga kerja untuk membangun sarana pendukung perang, misalnya benteng pertahanan, jalan raya dan kereta api, jembatan dan juga bandara. Dalam Wikipedia, tenaga kerja romusha diambil dari desa, umumnya orang yang tidak sekolah, meski awalnya sifat romusha adalah sukarela dan sementara. Seiring perjalanan waktu terjadi perubahan waktu sehingga menjadi paksaan.

Tenaga kerja itu dikirim ke luar Pulau Jawa, dan keluar negeri seperti Birma, Malaysia dan Thailand. Dalam catatan Wikipedia jumlah romusha dari Indonesia mencapai 4 sampai 10 juta orang. Itu di jaman penjajahan Jepang. Bagaimana dengan jaman penjajahan Belanda?

Jaman Belanda di kenal dengan istilah Tanam Paksa (Culturstelsel) dengan tujuan untuk membangun jalan, misalnya Jalan Raya Anyer Banten sampai Panarukan, Jawa Timur, jauhnye. Rakyat pada saat itu menderita, sehingga muncul perlawanan dari rakyat. Di antaranya dalam dosenpendidikan.net disebutkan Pangeran Kusumadinata di Sumedang, tentu masih banyak lagi perlawanan di pelosok negeri yang belum memroklamirkan dirinya sebagi Indonesia.

Johannes van den Bosch (tahun 1830) memberlakukan tanam paksa, artinya mengerahkan tenaga rakyat untuk menanam tanaman yang hasilnya dapat dijual di pasaran dunia seperti teh, tembakau, kopi, tebu dan rempah lainnya. Ada juga warga yang menolak tanam paksa ini, antara lain para pahlawan pejuang kemerdekaan, tetapi ada pula dari warga Belanda yang sangat menentang tanam paksa ini yaitu Douwes Dekker dan Pendeta van Houvel (dosenpendidikan.net).

Kerja setelah itu dan sekarang

Masih banyak bentuk-bentuk kerja paksa yang dialami oleh rakyat sebelum kemerdekaan Indonesia itu yang tidak dapat dituliskan satu persatu ceritanya. Tetapi itu dulu, jaman penjajah. Apa yang harus dilakukan oleh kita pasca kumandang kemerdekaan? Dan apa yang kita perlu untuk kerja di jaman sekarang?

Pasca kumandang pekik kemerdekaan atas nama Bangsa Indonesia oleh dwi tunggal Soekarno dan Hatta, rakyat merasakan kemerdekaannya. Disusunlah aturan sebagai pedoman dalam berbangsa dan bernegara. Nuansa kemerdekaan menyebabkan rakyat merasa merdeka meski masih ada ancaman dari Belanda pada waktu itu, tetapi masyarakat telah mendapatkan kebebasan bercocok tanam dan mengatur kehidupannya dan pemenuhan akan sandang dan papan.

Pergantian pimpinan Negara terjadi setiap lima tahun sekali, meski terus berganti, orde lama dipimpin oleh proklamtor Soekarno-Hatta meletakan pondasi bernegara dan berbangsa, orde baru dipimpin oleh Soeharto sebagai Presidennya, kita bisa swasembada pangan, meski hutang luar negeri begitu menumpuk. Orde Reformasi hingga sekarang kepala Negara berganti terus setiap lima tahunnya dengan prestasinya masing-masing.

Singkat kata, di jaman sekarang, era kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakilnya Jusuf Kalla dengan Nawa Cita, agar setiap warga Negara memiliki budi pekerti yang baik dan luhur dengan kerja, kerja dan kerja. Tidaklah salah memang maka dicanangkan Indonesia Kerja Nyata. Usia 71 tahun Indonesia kerja harus nyata. Upaya apa yang dilakukan supaya kita terus menjaga semangat kerja nyata?

Paling tidak tiga hal yaitu Diperlukan Cita-Cita, harapan dan impian anda. Impian yang tertulis, dipatri disanubari kita yang paling dalam, dihayati dan dihargai secara konsisten. Tentukan pula tahun-tahun diperolehnya impian itu supaya ada target yang logis dan terukur.

Kedua, Berani Gagal, artinya, terus mencoba. Gagal itu biasa, beranilah mencoba. Pindah-pindah kerja mungkin perlu untuk mendapatkan tempat yang layak untuk kita dapat mengekspresikan diri sebagai bagian dari tuntuan idealisme. Enjoy melaksanakan aktivitas kerja itu, karena kerja merupakan ibadah, anugerah dan tampilan diri kita yang sesungguhnya. Baru, hasilnya kita bisa nikmati berapa pun itu.

Ketiga, Setia, etos kerja dan Berdoa. Setia dan etos kerja dalam kerja kita, artinya menikmati kerjaan kita. Tidak bosan dengan suasana. Hadapilah tantangan yang muncul karena itulah tugas kita, menyelesaikan masalah. Kritikan dari rekan kerja merupakan bumbu dalam bekerja. Berdoa adalah ekspersi dari iman, meminta petunjuk dari-Nya sang pemberi hidup agar kita diberkahi rejeki yang cukup dan kerjanya diberkati dan sesuai kehendak-Nya.

Akhirnya, kerja sebelum kemerdekaan telah diperjuangkan oleh pejuang kemerdekaan. Terima kasih pahlawan bangsa ini. Jasamu kami kenang. Kerja jaman penjajah dipaksa dan penuh ancaman untuk pemenuhan hidup, tetapi sekarang di jaman kemerdekaan ini, kita yang menentukan mau jadi apa kita, teruslah bekerja, kerja dan kerja yang nyata. Mudah-mudahan.

*) Guru SMP dan SMA Santo Fransiskus Asisi,

Alumnus TEP FKIP Untan Pontianak