70 Tahun NKRI: Makin Merdeka Melawan Nurani

70 Tahun NKRI: Makin Merdeka Melawan Nurani

Kamis, 20 Agustus 2015 01:31   545

Bagi orang Indonesia usia ke-70  tentu sudah pantas untuk disyukuri. Usia 70 tahun dapat dirasakan sudah masuk masa senjakala, masa menunggu Sang Waktu mengganti siang dengan malam.

Bagi negara, tentu usia ke-70  tidak sama dengan manusia. Harapannya, sebuah negara tidak akan lenyap ditelan waktu. Namun, keberlangsungan hidup suatu negara lebih rumit. Negara republik yang paling tua yang hingga saat ini masih diakui keberadaannya adalah sebuah negara mikro kecil (61.2 km2 ) San Marino (301 – sekarang) dengan penduduk sekitar 31 000 jiwa. Sedangkan negara republik yang termuda adalah negara Nepal (2008 – sekarang).  NKRI lahir dipertengahan abad ke-20. Di abad ke-20 itu, negara republik yang berdiri pertama kali  dan masih ada hingga kini adalah Panama (1903). Usia 70 tahun, bagi negara tidak mudah dikatakan sudah cukup umur atau belum.

Tulisan ini tidak membicarakan umur NKRI, apakah 70 tahun itu muda, setengah baya, tua atau usur. Tetapi, akan mencatat perilaku penduduknya, apakah semakin tertib atau justru sebaliknya. Dua hal yang membuat Indonesia berjuang untuk merdeka adalah menegakkan perikemanusiaan dan menegakkan perikeadilan (Paragraf I, Pembukaan UUD 1945). Pada paragraf berikutnya (Pargraf II) digambarkan negara Indonesia yang merdeka para pendiri negara ini, yaitu: bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Di usia ke-70 ini, gambaran itu rasanya  masih samar-samar.

Bersatu? Secara administrasi memang sudah bersatu. Bagaimana dengan hati? Sudah sungguh merasa sebagai orang Indonesia? Atau, KTP memang orang Indonesia. Tetapi, jika negara dalam bahaya beranikah tetap berada di tanah air? KTP dan pasport tetap Indonesia. Tetapi, apa isi yang dibicarakan jika berada di negeri orang?

Berdaulat? Ya, sudah berdaulat secara hukum. Tetapi, berita tentang penyelundupan tidak pernah jeda. Rupa-rupa barang menjadi materi penyelundupan. Ada sembako. Ada obat-obat terlarang. Ada ikan. Bahkan, ada ‘manusia’.   Adil? Banyak tafsir tentang ‘adil’. Tetapi, makna adil yang mudah dicerna mungkin yang berasal dari seorang pembuat teh di sebuah kantor di tahun 1967. Di suatu hari tahun itu, pimpinan di kantor tempat si pembuat teh bekerja akan membagikan kacamata hitam penahan cahaya matahari. Tetapi, jumlahnya tidak cukup untuk semua karyawan.  Si kepala kantor kebingungan.  Bertanya kepada banyak orang, siapa yang perlu diprioritaskan. Tetapi, ia terkesan atas jawaban dari si pembuat teh. Ia bilang, “Bapak berikan kepada karyawan yang rumahnya di sebelah barat kantor ini. Mereka itu, baik ketika pergi ke kantor maupun pulang ke rumah selalu berhadapan dengan matahari.”  Pemberian yang adil adalah pemberian yang disampaikan kepada yang memerlukan.

Kalau ilustrasi seperti ini, diberikan kepada yang sungguh memerlukan,  dipegang sebagai  adil maka sudah adilkah negara kita ini? Berapa banyak orang Indonesia sungguh memerlukan sesuatu, karena memang berkekurangan, yang belum terpenuhi.

Makmur? Seperti juga adil makmur juga banyak tafsir.  Tetapi, mungkin diambil yang paling rendah, yaitu terpenuhi semua kebutuhan pokok manusia, makan, pakaian, dan tempat tinggal. Berapa persen orang Indonesia yang belum cukup makan, belum cukup pakaiannya, dan belum punya tempat tinggal?

Kewajiban siapa yang harus mewujudkan gambaran ini (bersatu, berdaulat, adil dan makmur)? Orang membawa pikiran kita ke paragraf berikutnya lagi (Paragraf III). Kalimat awal pargraf ini berbunyi, “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia”. Pemerintahlah yang berkewajiban untuk mewujudkan itu. Atau, meminjam kata-kata Presiden Joko Widodo, pemerintah berkewajiban hadir.

Pada paragraf ini juga ditemukan gambaran Indonesia yang merdeka, yaitu: kehidupan bangsa yang cerdas. Cerdas? Betul, Sebagian besar orang Indonesia yang berusia sekolah  telah mengenyam pendidikan. Bahkan, peserta program S-3 pun bak pisang goreng yang dijual di jalanan. Tetapi, di bidang pendidikan ini juga didengar isu ijasah palsu, dan juga nyontek. Rasanya, walaupun NKRI sudah berusia 70 tahun, dan saya telah menikmatinya selama 64 tahun, tindak menjauhi nurani semakin sering terdengar dan terlihat secara nyata. Mau kemana Indonesia? Jawaban yang berbisik lemah, merdeka yang beradab. Semoga! **

Leo Sutrisno