7 Fakta Memilukan Sekaligus Menggembirakan di Balik Facial Cleft Tutik Handayani

7 Fakta Memilukan Sekaligus Menggembirakan di Balik Facial Cleft Tutik Handayani

  Jumat, 19 Agustus 2016 21:49

Berita Terkait

SEJAK  lahir 16 tahun lalu, kondisi fisik Tutik Handayani sangat menyedihkan. Dia menderita kelainan langka facial cleft. Kamis (18/9), belia kelahiran Lumajang itu pun menjalani operasi di  Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA). Kabar penderitaan dan operasi penanganan Tutik pun menjadi buah bibir. Berikut 7 fakta-fakta di balik facial cleft yang dialami Tutik:   

1. Kasus Facial Cleft Tersulit di Indonesia 

Menurut ahli craniofacial senior, dr Magda H. SpBP-RE (KKF), kasus facial cleft cukup sering terjadi di Indonesia.

Dia juga sudah sering menangani kasus tersebut. Namun, dokter yang sehari-hari bertugas di RSUD dr Soetomo itu menyebut kasus Tutik Handayani sangat sulit. 

"Ini adalah kasus tersulit di Indonesia," katanya kepada Jawa Pos menjelang operasi kemarin (18/8). 

Idealnya, facial cleft ditangani ketika penderita masih anak-anak. Susunan tulang masih mudah direkonstruksi. Karena itu, proses operasi untuk memberikan wajah baru buat Tutik lebih sulit. 

2. Kian parah karena tak ditangani sejak kecil. Alasan biaya

Tutik mengalami kelainan wajah itu sejak lahir pada 5 November 1999 di Lumajang. Wajahnya mengalami facial cleft alias sumbing wajah. Namun, facial cleft yang dialami Tutik tidak seperti kebanyakan kasus. Parah.

Tutik lahir dari keluarga miskin. Ayahnya bekerja sebagai buruh kasar. Membantu ekonomi keluarga, ibunya, Fatmawati, berjualan makanan di SD Uranggantung, Kecamatan Sukodono, Lumajang.

Ketika Tutik berusia 2 tahun, ayahnya meninggal. Sudah miskin, yatim pula. Tutik pun tidak pernah mendapat perawatan medis meski wajahnya mengalami kelainan. 

3. "Semua takut kepada saya, makanya saya tidak bisa bersekolah" 

Tutik Handayani tidak akan keluar rumah tanpa kerudung. Gadis berusia 16 tahun tersebut membutuhkannya untuk menutupi wajah. Dia tidak ingin wajahnya yang mengalami ke­lainan facial cleft membuat orang takut. 

"Semua takut kepada saya, makanya saya tidak bisa bersekolah," kata Tutik kepada Jawa Posmenjelang operasi di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) kemarin (18/8). 

"Kalau sudah sembuh nanti, saya ingin bersekolah," ujarnya berharap.

4. Sosok yang tabah dan percaya diri

Selama 16 tahun hidup dalam keterbatasan, Tutik tumbuh menjadi sosok yang tabah. Dia sangat tegar saat menjalani operasi kemarin. Dipotret dan diwawancarai pun, dia sangat percaya diri. 

"Tutik ini pada dasarnya periang dan suka bercerita. Kalaungobrol dengan orang yang dia rasa baik, akan banyak ngomongnya," jelas Fatmawati, ibunda Tutik di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) kemarin (18/8). 

5. Butuh effort ekstra untuk mengerti apa yang dikatakan Tutik

Rahang atas Tutik tidak terbentuk sempurna. Karena itu, semua bagian atas giginya terlihat. Tidak ada bibir yang menutupi.  Mata gadis berambut lurus itu juga tidak sempurna. Kelopak matanya terbuka 

Namun, bola matanya tidak bisa terlihat karena ada semacam lapisan yang menutupi.

Karena rahang atas Tutik yang tidak sempurna, dibutuhkaneffort ekstra untuk mengerti apa yang dikatakannya. Bicara Tutik tidak jelas karena bibir atasnya hanya tersisa bagian kanan dan kiri. Itu pun hanya selebar sekitar satu sentimeter. Sementara itu, bibir bawahnya tertarik ke kiri. Untuk sekadar menutup mulut saja, Tutik mengalami kesulitan. 

6. Operasi pertama lancar, 3 hari lagi bisa pulang

Tepat pukul 12.00 WIB kemarin, Tuti masuk ruang operasi RSUA. Dia ditangani empat dokter spe­sialis untuk menjalani tahapan pertama operasi mata dan rahang atas. Operasi yang berjalan tujuh jam itu dipimpin dr Magda H. SpBP-RE(KKF). Tiga dokter lainnya adalah dr Indri Lakhsmi Putri SpBP-RE (KKF) , dr Nurdin Z. SpM, serta dr Prihatma SpAn.

"Operasi berjalan lancar. Tiga hari lagi dia bisa pulang," kata dr Putri. "Dua sampai tiga bulan ke depan dia menjalani operasi lanjutan," imbuhnya. 

Dokter Putri menjelaskan, operasi tahap pertama kemarin dilakukan untuk menutup ja­ringan lunak pada wajah Tutik.  Selain itu, operasi tersebut dilakukan untuk membentuk ruang di matanya. Caranya, dipasang sebuah alat agar terdapat rongga. 

7. Fokus ke gigi dan mata akrilik

Dokter Indri Lakhsmi Putri SpBP-RE (KKF) menjelaskan, dalam operasi kedua nanti pihaknya juga menggandeng dokter gigi konsultan ortodonsi. Tujuannya, merekonstruksi gigi Tutik. 

Sementara itu, dr Nurdin Z. SpM, dokter spesialis mata yang menangani Tutik, menuturkan bahwa dirinya telah melakukan pemeriksaan mata. 

Langkah pertama adalah mengecek kondisi bola mata dengan USG. (ultrasonografi). Tujuannya, melihat bentuk bola mata. Ternyata dia memiliki bola mata sebelah kanan. Sedangkan bagian kiri belum terdeteksi, adakah bola mata atau tidak sama sekali. 

"Untuk bisa melihat, sepertinya tidak," ucap Nurdin. Alasannya, dia telah mengecek dengan menggunakan cahaya. Namun, Tutik sama sekali tidak bisa melihat cahaya tersebut. 

"Kemungkinan akan dipasang mata akrilik untuk estetis saja. Tapi untuk melihat tidak bisa," imbuhnya. (lyn/c10/ang) 

Berita Terkait