6 Hektar Lahan Di Muara Pawan Terbakar

6 Hektar Lahan Di Muara Pawan Terbakar

  Sabtu, 13 Agustus 2016 10:16
PADAMKAN API : Patugas gabungan sedang memadamkan api yang membakar lahan di Desa Sungai Awan Kiri Kecamatan Muara Pawan. AFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

KETAPANG - Sekitar 6 hektar lahan gambut di Dusun Kelik Buntu Desa Sungai Awan Kiri Kecamatan Muara Pawan terbakar pada Kamis (11/8) sore. Api baru bisa dipadamkan sekitar pukul 22.30 WIB setelah tim gabungan dari Manggala Agni Daerah Operasi Ketapang dibantu anggota koramil dan dan polsek terjun ke lapangan dan memadamkan api.

Kepala Manggala Agni Daerah Operasi (Daops) Ketapang, Rudi Windra Darisman, api pertama kali diketahui oleh warga dan dilaporkan ke Babinsa Sungai Awan Kiri kemudian disampaikan kepada pihaknya. Tidak ingin api menyebar luas, pihaknya langsung melakukan pemadaman.

"Kami bersama tim gabungan dari Koramil Delta Pawan serta anggota Polsek Muara Pawan langsung memadamkan api. Kejadiannya sekitar pukul 15.10 WIB dan baru bisa dipadamkan pukul 22.30 WIB," kata Rudi, kemarin (12/8).

Pada Jumat (12/8) pagi, pihaknya kembali terjun ke lokasi untuk melakukan kegiatan Moping Up memastikan kalau api benar-benar padam. Karena pada malam hari jarak pandang di lokasi kebakaran terbatas. Menurutnya, kemungkinan masih ada bara api yang masih menyala dan jika tertiup angin bisa menimbulkan api. "Kita sudah lakukan Moping Up. Alhamdulillah api sudah dipastikan padam semua," jelasnya.

Ia memperkirakan lahan yang terbakar mencapai 6 hektar. Pihaknya belum mengetahui penyebab pasti kebakaran lahan tersebut. Pihaknya menduga kebakaran lahan tersebut karena ada faktor kesengajaan atau kegiatan pembersihan lahan dengan cara dibakar.

Dari Januari hingga 11 Agustus 2016, 36 hektar hutan dan lahan terbakar yang tersebar di beberapa kecamatan di Ketapang dan Kayong Utara. Seperti di Ketapang di antaranya di Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kecamatan Kendawangan, Kecamatan Muara Pawan, Kecamatan Delta Pawan serta Kecamatan Simpang Hilir.

Rudi mengaku, kendala pihaknya untuk memadamkan api adalah rentang kendali pengendalian karhutla. Karena kejadian karhutla kebanyakan terjadi di desa rawan yang jaraknya sangat jauh. Hal itu menyebabkan api padam dengan sendirinya, mengingat aksesibilitas yang sangat jauh ditempuh dari Kota Ketapang.

Untuk itu; kedepan pihaknya akan bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Ketapang, TNI dan Polri melalui Muspika yang rawan Karhutla untuk menempatkan personil dan peralatan Manggala Agni di Kecamatan-Kecamatan rawan. "Ketika mendapat informasi adanya hotspot maka tim di lapangan bisa langsung bergerak cepat untuk menanggulanginya," harapnya.

Sementara itu, Kapolda Kalbar, Brigjend Pol Musyafak, mengatakan pihaknya sudah melaksanakan berbagai kegiatan rutin bersama Kodam untuk menanggulangi karhutla. "Berdasarkan intruksi dari Presiden RI bahwa Kepala Satgas pelaksanaan penanggulangan dan pencegahan Karhutla dari Pangdam. Kemudian Wakil Satgasnya adalah Kapolda," katanya saat berkunjung ke Kayong Utara, kemarin.

Menurutnya, kegiatan berkaitan Karhutla tak hanya menjelang kemarau saat rawan kebakaran. Tapi sudah dilaksanakan jauh hari dan hingga sekarang masih tetap berjalan. "Di sini sudah kita bentuk ada Satgas Desa terdiri sekitar 30 orang. Kemudian tiap satgas dibuat regu terdiri dari dua polisi, dua TNI, satu Manggala Agni dan lain-lain," jelasnya.

Ia menambahkan namun faktanya satu regu biasanya lebih dari 10 orang. Lantaran masyarakat sekitar banyak ikut serta karena tidak mau di lingkungannya ada lahan terbakar. "Jadi sudah bersinergi, dilakukan Pemda, TNI, Polri hingga masyarakat bersatu padu dalam hal menangani Karhutla," pungkasnya. (afi)

Berita Terkait