5 Orang Tinggal Digubuk 2x3 meter

5 Orang Tinggal Digubuk 2x3 meter

  Rabu, 17 Agustus 2016 11:00
SEADANYA: Amri Mingkum di depan rumahnya di wilayah RT 51 RW 011 Kelurahan Roban Singkawang Tengah. Rumah 2x3 meter yang dihuni oleh lima orang, teramsuk dirinya. HARI KURNIATHAMA/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Setelah Indonesia 71 Tahun

71 tahun sudah Indonesia merdeka, namun tidak semua orang merasakan kemerdekaan. Seperti penghidupan Amri Mingkum dan keluarnya di wilayah RT 51 RW 011 Kelurahan Roban Singkawang Tengah. Yanto, sang ketua RT membenarkan ada warga yang tinggal di gubuk seadanya. 

Ia membenarkan ada dua kepala keluarga di wilayahnya. Memprihatinkan. Dua kepala keluarga ini tinggal di dua gubuk masing-masing berukuran 2x3 meter. Sedikit tambahan di luar bangunan. Sedangkan satu KK lagi hidup di gubuk dengan 2,5 meter X 3 meter.

Beruntung, kami bisa berjumpa dengan Amri Mingkum, pria berusia 44 tahun itu. Di lokasi lahan tumpangan ini, ia hidup dengan istrinya Triliati dengan 4 anaknya. Satu anaknya, mondok di pesantren. Rasanya tidak percaya melihat bangunan yang berdinding papan, atap tambapal dari plastik dan rumbia bisa tidur dengan enam orang. Tapi itulah kenyataannya.

Amri mengakui, sehari-hari ia bekerja sebagai penyedot WC. Sekali bekerja Rp 500 ribu. Uang itu bukan untuk sendiri. Tetapi berbagi dengan rekan lainnya. 

“Paling-paling bawa ke rumah Rp150 ribu. Begitu pun order kerja tidak setiap hari. Tergantung pesanan. 

“Musim kemarau ini belum ada permintaan,” katanya.

Meski seadanya, Amri dan istri tetap menyekolahkan anaknya. Dari empat anaknya semuanya sekolah, ada yang ke pesantren. Kemudian, masih SMP dan SD. Yang bontot belum sekolah. Dia pun tetap komit untuk tetap bisa menyekolahkan anaknya.

Dengan kondisi rumah seadanya, dimana batang kayu menjadi penyangga tiang rumah, mereka harus hidup tanpa lampu jika malam hari. Hanya, pelita yang menemahi malam-malam di rumah. 

Namun ia tetap berjuang untuk hidup, tak heran jika ada warga yang hendak menggunakan jasanya sedot WC, ia minta dipromosikan biar dapat pekerjaan. 

“Jika berkenan silakan hubungi,” katanya.Menurut Ketua RT 51 RW 011, Yanto, pihaknya sudah melaporkan ini ke dinas terkait agar mendapatkan fasilitas sebagai warga negara. Karena, keluarga Amir ini tidak memiliki kartu Indonesia Sehat (KIS), dan anak-anaknya tak memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP), apalagi bantuan seperti raskin. 

“Memang saat ini ia belum pindah sebagai penduduk kabupaten Sambas ke Singkawang, tapi ia sudah lebih dari enam bulan diam di Singkawang,” katanya. 

Semoga, kata dia, dengan diketahui keberadaan Amir sekeluarga ini dapat dibantu pemerintah kota Singkawang dalam mendapatkan hak-hak mereka sebagai orang dikategorikan kurang mampu.

Namun bukan berarti, kata Yanto, warga sekitar tidak peduli. Karena bersama warga lainya dan pengurus masjid Al-Manar sedang menggalang dana untuk membantu keluarga Amir Mingkum dan keluarga Azizul Hakim (27), keluarga yang kondisinya kurang lebih sama dengan Amir Mingkum sekeluarga untuk dibelikan lahan sebagai tempat tinggal. 

“Semoga ini tercapai,” harap sang ketua RT.

Setelah dari rumah Amir, koran ini beranjak ke rumah Azizul Hakim (27), disana bersama ketua RT, kami bertemua sang istri Aulia (34) yang sedang mengasuh anaknya Reza berusia 2 tahun. Di bangunan 2,5 meter kali 3 meter tanpa MCK itu kami mengobrol santai. Keduanya sudah tinggal kurang lebih bulan. Ia pun mengaku tinggal diatas lahan warga lainya yang sudi memberi mereka izin menumpang. “Kalau tanah ini dipakai pemilik kami pun harus pergi,” katanya.

Sama halnya keluarga Amir, Aulia dan suami hidup penuh keterbatasan. Di rumah yang mereka huni tidak ada aliran listrik, sehingga jika malam tiba hanya pelita maupun lampu pompa yang mereka pakai. 

“Maklum pak, gaji suami saya hanya Rp 120.000 per minggu,” katanya. Sehingga dengan uang itu, keduanya harus hemat. 

“Kalau tiap hari makan dua kali, lauknya ikan asin atau seadanya, kalau gajian baru beli lauk selain ikan asin,” katanya. Ironisnya lagi, suami istri ini tanpa kejelasan identitas kependudukan.

 “Tidak ada KTP atau KK pak,” katanya. Meski Aulia mengaku berasal dari Bangka Belitung dan suaminya asli warga Singkawang. tentunya ia berharap ada bantuan dari pemerintah. “Syukur kalau kami dibantu,” harapnya. (hari kurniathama)

Berita Terkait