38 Penderita Harusnya KLB Kaki Gajah

38 Penderita Harusnya KLB Kaki Gajah

  Jumat, 20 November 2015 09:02

Berita Terkait

KETAPANG - Penyakit filariasis atau yang lebih dikenal kaki gajah menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Ketapang. Bagaimana tidak, di tahun 2015 saja sudah ada 38 warga yang terjangkit kaki gajah. 13 penderita di antaranya sudah divonis kronis. "Target WHO di tahun 2020, di Indonesia harus bebas dari generasi penyakit kaki gajah," kata Kepala Dinas Kesehatan Ketapang, Heri Yuslitio, kemarin (19/11).

Ia menjelaskan, ke 38 penderita kaki gajah ini tersebar di beberapa kecamatan. Pemerintah Daerah melalui Dinas Kesehatan terus berupaya menekan angka penyakit kaki gajah. Salah satunya melalui kegiatan pemberian obat massal pencegahan Filariasis. Secara kasat mata terdapat 13 kasus kronis yang tersebar di 5 kecamatan. Di antaranya di Kecamatan Matan Hilir Utara, Delta Pawan, Muara Pawan, Nanga Tayap serta Marau. "Awalnya hanya kita temukan 13 kasus kaki gajah yang sudah kronis. Tapi ketika dilakukan survey darah dari 100 sampel, kita temukan 25 warga yang di dalam darahnya terdapat cacing filaria. Makanya total kasus untuk tahun ini menjadi 38 kasus," jelasnya.

Untuk penanganan terhadap 13 kasus yang sudah kronis, pihaknya sudah melakukan pemeriksaan dan melihat terlebih dahulu bagaimana perubahan fisik atau kecacatannya akibat penyakit kaki gajah tersebut. Jikka memang sifatnya sudah permanen maka kecacatan itu harus di operasi. "Namun langkah terpenting harus membunuh cacing filaria yang berada di dalam tubuh pasien, agar tidak menularkan ke orang lainnya," jelas Heri.

Sementara untuk 25 penderita lainnya yang belum mengalami perubahan fisik atau kronis, terus dilakukan upaya penanggulangan dan penyembuhan dengan memantau kesehatan. Selain itu juga diupayakan untuk membunuh cacing-cacing filaria yang ada di dalam tubuh pasien tersebut.

"Saat ini tidak hanya yang terdeteksi terkena penyakit kaki gajah, warga yang tidak terkena juga diwajibkan meminum obat yang akan dibagikan secara gratis. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyakit kaki gajah ini. Obat-obat ini harus diminum setahun sekali selama kurun waktu 5 tahun," lanjutnya. Seluruh masyarakat khususnya Ketapang diharuskan meminum obat, terutama pada usia 2 tahun hingga 75 tahun. Sementara bagi anak-anak usia di bawah 2 tahun akan dilakukan penundaan minum obat tersebut, serta orang yang sedang sakit, penderita sakit ginjal, epelepsi serta ibu hamil.
Untuk di Ketapang Pemeberian Obat Massal Pencegahan (POMP) filariasis yakni obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) dan Albendazole sedang berjalan. "Warga binaan juga sudah diberikan dan meminum obat tersebut. Di kecamatan lain sedang berjalan pemberian obat gratis untuk mencegah penyakit kaki gajah ini," paparnya.
Ia pun berharap agar masyarakat tidak takut meminum obat tersebut. Karena tidak ada efek samping. "Kita juga meminta masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan kehigienisan dalam rumah. Karena salah satu penyebab mudahnya menular penyakit ini karena kondisi lingkungan yang kotor," terangnya.
Sementara itu, Pj Bupati Ketapang, Kartius, mengajak seluruh element pemerintahan dan masyarakat mewujudkan komitmen bersama menanggulangi penyakit kaki gajah di Indonesia dan khususnya di Ketapang. Sejalan dengan kebijakan global untuk mengeleminasi seluruh filariasis hingga tahun 2020.
"Saya minta kepala Dinas menganggarkan untuk program ini, ini aspirasi Penjabat Bupati, apalagi 38 kasus yang ada seharusnya masuk status KLB, anggaran kita lebih besar dari Kota Pontianak jadi penangangan kasus harus sigap," tegasnya.
Apalagi, lanjut Kartius, pemberantasan penyakit Filariasis sudah menjadi sasaran pokok sesuai peraturan nomor 2 nomor 2015 dan menjadi RPJMN 2015 sampai 2019 yang menjadi acuan gubernur dan bupati untuk menjadi program prioritas. "Kalbar termasuk wilayah endemis kaki gajah, dari 256 kasus tersebar di beberapa kabupaten termasuk satu di antaranya Ketapang. Jadi ini harus jadi catatan," lanjutnya.
Untuk itu, ia juga meminta semua penduduk dapat serentak meminum obat filariasis, dan pencegahan ini akan berhasil jika semua pihak baik pemerintah, swasta dan masyarakat bersama-sama, dengan satu diantara pencegahan efektif dengan melalu POMP. (afi)

 

Berita Terkait