35 Meninggal, Tinggalkan Seks Bebas Atau Berisiko

35 Meninggal, Tinggalkan Seks Bebas Atau Berisiko

  Rabu, 16 December 2015 08:53

Berita Terkait

Sejak 2006 hingga November  2015 ditemukan sebanyak 227 kasus HIV/AIDS di kabupaten Sintang. Kemudian sebanyak 35 pengidap HIV/AIDS meninggal. Ini berdasarkan data Dinas Kesehatan Sintang. Di luar itu, yang tidak terdata tentu lebih banyak seringnya disebut fenomena gunung es. Sutami, Sintang

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr A Eko Sugiri Sp Pd, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ade Moch Djoen Sintang mengatakan, mencegah penularan virus HIV/AIDS bisa dilakukan. Antara lain tidak melakukan hubungan seks bebas atau menggunakan alat kontrasepsi saat berhubungan intim yang berisiko. Kemudian menggunakan jarum suntik yang steril (tidak berulang-ulang digunakan).

Ia menambahkan, HIV/AIDS sendiri merupakan penyakit yang tidak bisa dianggap remeh. Pasalnya, mudah menular dan tidak ada obatnya. Namun, pengidap HIV/AIDS tidak bisa menularkan dengan cara berjabat tangan, berpelukan, pemakaian toilet, wastafel, berenang di kolam renang, gigitan nyamuk atau serangga, batuk, serta pemakaian piring yang sama. Kecuali transfusi darah melalui jarum suntik yang tidak steril, hubungan seks secara bebas, melalui air susu ibu yang positif terkena HIV.

Sementara Pemerintah Kabupaten Sintang berupaya mencegah penyebaran virus HIV/AIDS dengan menerapkan langkah strategis. Antara lain menerbitkan peraturan Bupati Sintang nomor 59/2015 tentang Rencana Strategis Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS 2015-2019.

Penjabat Bupati Sintang, Alexius Akim mengatakan, perkembangan kasus HIV/AIDS di Sintang yang semakin meningkat dapat menimbulkan dampak buruk dan luas terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. Tanpa kecuali terhadap kesehatan masyarakat, sehingga perlunya penanggulangan secara melembaga, sistematis, komperehensif, partisipasif, berkesinambungan dan menyeluruh.

Menurut Akim, penyebaran HIV/AIDS bisa diakibatkan pola hidup tidak sehat seperti melakukan hubungan seks bebas yang berisiko. Karena itu, lanjutnya, mesti diperhatikan dalam kehidupan adalah menguatkan  iman, mental, dan spiritual.“Mari kita bersama-sama melakukan pencegahan, melakukan kesadaran diri,  demi tidak terjadinya penyakit penularan HIV/AIDS dikalangan masyarakat,” kata Akim.

Akim juga berharap kepada seluruh organisasi wanita di Sintang seperti Dharmawanita, PKK, GOW, Persit, Bhayangkari, dalam setiap melakukan pertemuan dengan para anggota agar memberikan pengarahan, sosialisasi tentang bahaya  HIV/AIDS dan cara pencegahan.“Tidak lupa setiap masing-masing SKPD dilingkungan Pemkab Sintang harus dibentuk tim untuk membuat program wajib tentang penyakit HIV/AIDS,” ujarnya.(stm)

Berita Terkait