29 Advokat Peradi Dilantik

29 Advokat Peradi Dilantik

  Kamis, 12 May 2016 10:35
FOTO IST PARA ADVOKAT: 29 Advokat Peradi Pontianak usai diangkat dan diambil sumpahnya di Pengadilan Tinggi Pontianak, Rabu (11/5).

Berita Terkait

SEBANYAK 29 advokat Peradi Pontianak Kalimantan Barat dilantik dan diambil sumpahnya di Pengadilan Tinggi Pontianak, Rabu (11/5) kemarin.

Ketua Pengadilan Tinggi Pontianak, Basuki Dermo Sentono yang melantik para advokat tersebut. Selanjutnya para advokat itu dapat menjalankan profesinya berdsarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003.

Ke 29 Advokat tersebut yakni, Amia Paula, H Baharuddin N, Zahirman, Shinta Primasari, Moerdjani Aban, Welyanti, Fahrur Razi, Frederick La Mbodja, Iswahyuni, Teguh Sukmono, Amirudin, Anna Maylani, Gunawan, Regina Rochyani, Sumardi M Noor, Satria Buntaran, Dominikus Arif, Esti Suhesti, Ahmad Khanafi, Sy Kurniawan, Feri Hyang Daika, Lenon Siahaan, Pebruantoni, Krisman Hara Tua Sitompul, Edwin Rommel, Zainal Abidin AR, Yulistia Harty, Budimansyah dan Marada Manurung.

Pelantikan dan Sumpah Advokat ini dihadiri Pengurus Peradi, diantaranya, Ketua Umum DPN Peradi, DR H Fauzie Yusuf Hasibuan SH MH, Ketua Bidang Pengangkatan Advokat DPN Peradi, Irwan Hadiwinata SH SPn MH, Anggota Kehormatan DPN Peradi, H Tamsil Sjoekoer SH, Ketua Koordinator Peradi wilayah Kalimantan (Kalbar, Kaltim dan Kaltara) sekaligus Ketua DPC Peradi Pontianak-Kalbar, Hadi Suratman SH MSi, serta pengurus Peradi Pontianak.

Sebelum diambil sumpahnya oleh Ketua Pengadilan Tinggi, para advokat ini diangkat dan dikukuhkan menjadi advokat dibawah naungan Peradi melalui prosesi pengangkatan, di hari dan tempat yang sama.

Basuki Dermo Sentono, Ketua Pengadilan Tinggi Pontianak, berpesan, dalam menjalankan profesi para advokat harus berpegang teguh dengan sumpah yang diucapkan dan menjaga integritas profesional sebagai penegak hukum. 

Ketua DPN Peradi, Fauzie Yusuf Hasibuan dalam sambutannya menjelaskan saat ini masyarakat profesi di Indonesia dihadapkan dengan kebijakan MEA (masyarakat ekonomi Asean). Untuk profesi advokat, kebijakan MEA itu bakal diterapkan dua tahun kemudian, dimana advokat asing akan bisa beracara dan berkantor sendiri. Menghadapi ini advokat, khususnya advokat yang berada di bawah naungan Peradi harus mampu mempersiapkan diri menghadapi advokat asing. “Harus mampu mengupgrade diri baik kualitas maupun mutu dalam menjalankan profesi,” terangnya.

Senada, Ketua DPC Peradi Pontianak, Hadi Suratman SH MSi.  Dia menambahkan advokat dibawah naungan Peradi harus kuat dan siap profesionalitasnya untuk bersaing dengan advokat asing tersebut, sesuai dengan UU Advokat dan kode etiknya. “Jangan lupa juga kepentingan sosial bagi pencari keadilan yang kurang mampu,” tegasnya. “Kode etik yang harus dijunjung tinggi dan membela tidak saja kepada mereka yang memiliki uang sehingga masyarakat dari kalangan manapun merasa terlindungi oleh adanya para advokat,” ucapnya.(ser)

Berita Terkait