24 Jam Mengapung dengan Sekeping Papan, ABK Hilang Ditemukan Selamat

24 Jam Mengapung dengan Sekeping Papan, ABK Hilang Ditemukan Selamat

  Rabu, 16 December 2015 08:44
SELAMAT: Syahminan (duduk) ketika dirawat di RS Fatima, kemarin (15/12). Ia merupakan salah satu ABK Samudera Jaya I yang tenggelam dan ditemukan selamat setelah mengapung 24 jam di laut. AHMAD SOFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

 
KETAPANG – Mengapung sekitar 24 jam di laut, Syahminan (65), ditemukan dalam keadaan selamat. Salah satu anak buah kapal (ABK) Samudera Jaya I yang tenggelam di muara Sungai Pawan ini selamat, setelah berpegangan pada sekeping papan serpihan kapalnya yang hancur.

Pria asal Desa Kauman, Kecamatan Benua Kayong ini, ditolong oleh seorang nelayan yang sedang menaikkan pukat di perairan Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan (MHS), Selasa (15/12) pagi, sekitar pukul 08.00 WIB. Ia pun langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut.

Saat ditemui di Rumah Sakita Fatima Ketapang, pria yang sejak muda bekerja sebagai ABK ini, menceritakan detik-detik sebelum kapal hancur dan tenggelam. Ia juga menceritakan bagaimana upayanya bertahan di laut lepas sekitar 24 jam. Ia berhasil selamat karena sebelum kapal tenggelam, ia sudah siap. Kesiapan yang dimaksud di antaranya mengenakan baju pelampung, hanya mengenakan celana dalam agar mudah berenang, hingga melumuri badannya dengan oli agar tidak menjadi mangsa ikan di laut. "Saya sudah tiga kali tenggelam ikut kapal. Dengan ini berarti sudah empat kali," katanya, kemarin (15/12).
Pria yang sudah lama menetap di Pontianak ini selalu diberikan keselamatan dari musibah tenggelamnya kapal. "Pernah tenggelamnya di lautan besar seperti, di Laut Karimun. Bahkan, pernah hampir semunggu saya hilang di laut. Tapi Alhamdulillah masih diberikan umur panjang," syukurnya.
Sebelum kapal tenggelam, ia berada di palka mesin. Diceritakan dia bagaimana sedikit demi sedikit air mulai memasuki kapal karena ombak sangat besar. Ia memperkirakan ketinggian ombak mencapai 3 – 4 meter. Khawatir kapal akan tenggelam, ia bersama ABK lainnya pun mengenakan baju pelampung.
Selain itu, ia melumuri badannya dengan oli, agar tidak menjadi mangsa ikan besar di laut. "Saya sempat memegang tali tetapi lepas, karena ombak tinggi. Sebelum tenggelam, saya sudah lepas semua pakaian, hanya menggunakan celana dalam dan baju pelampung," jelasnya. "Kaki dan tangan juga saya lumuri dengan oli agar saat di laut ikan tidak mengejar. Sebab kalau tidak diberi oli, kaki dan tangan akan tampak putih di dalam air dan dapat membuat ikan-ikan besar mengejar," lanjutnya.
Karena ombak semakin kuat, ia pun semakin jauh dari kawan-kawannya. Ia mengapung menggunakan baju pelampung dan sebatang kayu yang berhasil ia pegang. Tidak lama berselang, secara tiba-tiba datang sebuah papan besar serpihan kapal yang pecah mendekat kepadanya.
Ia pun melepaskan kayu yang jadi pegangannya dan menaiki papan yang seolah datang menolong dirinya. Tanpa merasa lapar dan sakit, ia terus berusaha mengayuh papan yang ia naiki dengan kedua tangannya menuju daratan. Sesekali matanya terpejam karena mengantuk. Sementara untuk menghilangkan rasa hausnya, ia menadah tetesan air hujan dengan mulutnya.
"Mungkin teman-teman saya mengira saya sudah meninggal. Karena hampir sehari semalam belum ditemukan. Belum lagi kawan-kawan melihat saya hanya berpegangan pada sebuah kayu," ujar Syahminan.
Ia tidak pernah berhenti mengayuh meski sering kali tangan dan kakinya digigit ikan buntal. "Saya terus berdoa. Tidak ada terasa sakit, lapar pun tidak, hanya saja haus. Kebetulan hari hujan, jadi sambil mengayuh papan, saya sambil menadahkan mulut ke langit buat minum air hujan," ungkapnya.

Sekitar pukul 08.00 WIB, ia melihat sebuah kapal nelayan di daerah Sungai Besar, MHS. Ia memanggil kapal nelayan tersebut dengan sisa tenaganya. Nelayan itu pun melihatnya dan langsung mendatanginya. Ia pun sangat bersyukur karena berhasil selamat dari musibah kali ini. "Saya langsung dibawa ke darat dan dibawa ke rumah sakit ini," paparnya.
Ia belum dapat memastikan apakah akan kembali melaut. Sementara melaut sendiri merupakan pekerjaannya sejak ia muda. "Lihat nantilah. Kalau tidak kerja di laut, mau kerja apa lagi? Soalnya saya dari muda sudah kerja di laut," pungkasnya.Dengan demikian, sembilan ABK Samudera Jaya I dinyatakan selamat. Sementara kapal dan muatannya yang tenggelam pada Senin (14/12) hancur di laut. (afi)

 

Berita Terkait