201 Desa Siaga Api

201 Desa Siaga Api

  Senin, 4 April 2016 09:00
KARHUTLA: Bupati Ketapang Martin Rantan memeriksa barisan peleton desa dalam apel besar Karhutla dilapangan Tanjungpura

Berita Terkait

KETAPANG - Sekitar 2.000 orang mengikuti deklarasi anti kebakaran hutan dan lahan di Lapangan Sepakbola Tanjungpura, Sabtu (2/4) pagi. Mereka yang terdiri dari anggota Polres, Kodim 1203, BPBD, Manggala Agni, camat dan kepada desa, mendeklarasikan diri sebagai tim anti kebakaran hutan dan lahan di Ketapang.

Deklarasi dipimpin langsung oleh Bupati Ketapang, Martin Rantan. Sebelum membacakan deklarasi anti kebakatan hutan dan lahan, Bupati didampingi Kapolres, Dandim 1203 dan jajaran Muspida lainnya melihat secara langsung peralatan pemadam kebakaran yang dimiliki Pemda, perusahaan dan pleton desa.

Deklarasi dibacakan langsung oleh Bupati Ketapang. Ada tiga poin dalam deklarasi tersebut. Pertama, perusahaan diharuskan membuat embung sebagai tempat penampungan air. Tujuannya agar saat musim kemarau tiba, persediaan air tetap ada, dan jika terjadi kebakaran hutan dan lahan dapat dijadikan sumber air.

Selain itu, pembentukan pleton desa dan pleton perusahaan juga harus dilakukan untuk mengantisipasi kerhutla. Pleton desa dan perusahaan adalah petugas yang paling terdepan untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan serta sebagai petugas yang pertama kali memadamkan api saat terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Kedua, saat musim kemarau tiba, masyarakat dan perusahaan dilarang membakar hutan, lahan dan kebun untuk kepentingan apapun. Karena asap yang ditimbulkan dari pembakaran itu akan sangat mengganggu. Mulai dari kesehatan, perekonomian, pendidikan dan transportasi.

Ketiga, jika ada yang melakukan pembakar lahan, hutan dan kebun akan ditindak dengan tegas. Mulai dari hukuman penjara paling lama 10 tahun hingga denda Rp15 miliar.

Terkait larangan membakar hutan dan lahan untuk kepentingan apapun, Martin, mengatakan hal tersebut adalah untuk mencegah terjadi musibah kabut asap yang selalu timbul setiap musim kemarau tiba. "Tidak boleh, untuk apapun itu," tegasnya, kemarin (2/4).

Bagi masyarakat yang sudah melakukan pembakaran hutan dan lahan untuk bertani, Martin, meminta agar tidak melakukannya lagi. Ia meminta jika akan membuka lahan untuk bertani, hendaknya melakukannya dengan cara manual. "Jangan dibakar," lanjutnya.

Ia juga menambahkan, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan perusahaan untuk mencari solusinya. Salah satunya memindahkan masyarakat dari yang biasa bertani dengan lahan berpindah menjadi bertani tetap atau sawah. "Setelah ini akan mengadakan rapat koordinasi dengan perusahaan tentang progtam CSR. Salah satu solusinya dari ladang berpindah menjadi sawah," ujar Martin.

Kapolres Ketapang, AKBP Hady Poerwanto, mengatakan, dari 249 desa di Ketapang, cuma 48 desa yang belum membentuk pleton desa. Pleton desa ini adalah kelompok masyarakat yang mendapat pelatihan untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Mereka juga yang akan memadamkan api jika terjadi kebakaran hutan dan lahan.

"Untuk desa yang belum terbentuk pleton desa akan segera dibentuk. Mereka akan dilatih bagaimana cara mengantisipasi dan memadamkan api saat terjadi kebakaran," kata Kapolres.

Selain pleton desa, satuan tugas anti kebakaran hutan dan lahan juga sudah dibentuk oleh semua perusahaan yang ada di Ketapang. "Kita berharap pleton dan satgas ini dapat bekerja dengan baik dengan mengawasi masing-masing daerah mereka agar tidak terjadi kebakaran. Jika ada api, kita harap dapat segera dipadamkan," harapnya.

Pihaknya melalui Polsek juga akan melakukan pengawasan dan patroli. "Untuk tindakan tegas sudah jelas sesuai dengan deklarasi, akan kita tindak tegas. Baik itu masyarakat ataupun korporasi. Karena dampak dari kebakaran itu sangat besar," tegas Hady.

Deklarasi anti karhutla satgas pleton desa dan perusahaan ini mendapat apresiasi dari Kapolda Kalbar dan Pangdam XII Tanjungpura. "Acara ini mendapat apresiasi dari Kapolda dan Pangdam, karena ini baru pertama kali di Kalbar. Semoga ini tidak hanya menjadi seremonial saja, namun dapat dilanjutkan ke tindakan nyata," harap Hady.

Usai pembacaan deklarasi, acara dilanjutkan dengan simulasi pencegahan dan pemadaman api. Masing-masing satgas memperagakan bagaimana cara mencegah agar api tidak menyebar luas dan cara memadamkan api, baik yang ada di permukaan maupun yang ada di dalam tanah. (afi)

Berita Terkait