16 Warga Pinyuh Gadaikan Rumah jadi Pengikut Dimas Kanjeng

16 Warga Pinyuh Gadaikan Rumah jadi Pengikut Dimas Kanjeng

  Sabtu, 1 Oktober 2016 09:26

Berita Terkait

Sungai Pinyuh - Setidaknya ada 16 warga Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah yang diduga menjadi pengikut Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Informasi tersebut diungkapkan Kapolsek Sungai Pinyuh Kompol Agus  Dwi Cahyono, Jumat (30/3) kemarin.

"Bedasarkan pendataan sementara ada 16 warga yang diduga ikut dalam padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo, Jawa Timur. Mereka terdiri dari 15 orang asal Kelurahan Sungai Pinyuh dan satu orang dari Kelurahan Rasau. Jadi total sementara warga Kecamatan Sungai Pinyuh ada 16 orang," kata Agus.

Pendataan ini, kata Agus akan terus dilakukan mengingat tidak menutup kemungkinan jumlahnya terus bertambah. "Kami terus melakukan pendataan untuk memastikan kembali berapa jumlahnya," lanjutnya.

Menurut Agus, keseluruhan warga yang diduga menjadi pengikut Dimas Kanjeng saat ini masih berada di Probolinggo. Mereka bertahan meskipun Padepokan Dimas Kanjeng yang terletak di Dusun Sumber Cengkalek, RT 22/08, Kecamatan Gading, Probolinggo, Jawa Timur telah ditutup.

Menurut Agus, alasan warga Pinyuh tetap bertahan di padepokan itu karena ingin mendapat kepastian terkait nasib mereka. Namun demikian, kondisi warganya dalam keadaan baik-baik saja. "Berdasarkan informasi melalui sambungan telepon, mereka di sana dalam keadaan baik," jelasnya.

Dijelaskan Agus, mereka rela menjual dan menggadai barang-barang berharga, seperti tanah, perhiasan dan rumah. Uang itu digunakan sebagai modal agar bisa digandakan di padepokan Dimas Kanjeng. Bahkan ada juga rumah milik salah satu warga yang sudah disegel. "Untuk pergi ke sana, mereka rela menjual dan menggadai barang-barang berharga. Ada juga rumah yang sudah disegel oleh CU (credit union)," paparnya.

Kapolsek mengimbau agar warga tersebut pulang ke Pinyuh. Pihaknya akan menjamin keamanan bagi mereka yang ingin kembali ke kampung halamannya. "Kami berharap mereka kembali. Kami akan sangat menerima. Untuk keselamatan mereka, kami jamin 100 persen," tegasnya.

Kemarin Polsek Sungai Pinyuh mendatangi kediaman salah seorang warga yang diduga menjadi pengikut Dimas Kanjeng yakni Hartono Ismail (50), warga Gang Gusti Haidir 1 RT 003/002 Kelurahan Sungai Pinyuh, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah.

Di rumah yang terbuat dari papan kayu itu, petugas bertemu dengan Agusniarti (49), yang tak lain adalah istri dari Hartono. Perempuan berkerudung itu mengakui suaminya pergi ke padepokan yang terletak di Probolinggo sejak  dua bulan lalu. Menurut dia, suaminya tidak sendirian, melainkan bersama 11 warga lainnya. "Sudah dua bulan ini. Tapi kadang-kadang juga pulang. Komunikasi kami baik. Malahan setiap hari bapak selalu nelepon dua sampai lima kali sehari," kata Agusniarti.

Ia menyebutkan, suaminya ikut bergabung dengan padepokan Dimas Kanjeng berawal dari ajakan teman yang lebih dulu menimba ilmu di padepokan itu. Dari situ, kemudian suami dan beberapa warga lain ikut serta bersama pergi ke padepokan tersebut.

"Katanya sih di sana ada pengajian atau istighotsah. Lalu bapak dan warga lainnya berangkat," terangnya.

Sebagai istri, Agusniarti tidak keberatan dengan apa yang dilakukan suaminya. Justru ia akan mendukung sepenuhnya jika apa yang dianut atau dipelajari sang suami merupakan ajaran yang benar. Namun sebaliknya, jika ternyata ajaran itu tidak baik, apalagi sampai mengorbankan anak dan keluarga, maka ia tidak ada mendukung.

"Tidak ada masalah. Saya akan dukung kalau itu memang ajaran yang benar," katanya. Saat ini, Agusniarti hanya bisa pasrah dan berharap suaminya dalam keadaan baik-baik di sana. "Saya hanya berharap supaya bapak dalam keadaan sehat dan bisa menjaga diri," harapnya.

Sementara itu Ketua RT 003/002 Kelurahan Sungai Pinyuh Mustafa mengatakan, pihaknya akan menerima warganya yang ingin kembali. Bahkan ia akan menjamin keselamatan warganya tersebut. "Jika mereka kembali silakan. Kami akan terima," katanya.

Terkait dengan ajaran Dimas Kanjeng yang diduga dianut oleh sebagian warganya itu, Mustafa mengaku sebenarnya sudah mengetahui sejak lama. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak, apalagi melarang. "Sebenarnya sudah lama. Tapi itukah urusan pribadi. Saya tidak bisa ikut campur," terangnya.

Rekrut Pecatan Tentara

Dimas Kanjeng Taat Pribadi tidak main-main dalam mengamankan aset dan padepokannya. Dia merekrut pecatan tentara dengan berbagai pangkat. Dua orang berpangkat terakhir letkol. Satu di antaranya adalah ketua tim perencana pembunuhan Abdul Gani. Pecatan tentara itu menyusun mulai eksekutor hingga penghilangan jejak.

Berdasar informasi, tentara yang terlibat total enam orang. Lima di antaranya sudah tidak lagi aktif. Sementara itu, seorang anggota aktif sudah diserahkan ke kesatuannya untuk diproses hukum. Dua di antara lima tentara yang tidak aktif masih buron. Tiga lainnya sudah tertangkap.

Mereka adalah Ahmad Suyono (pangkat terakhir kapten), Wahyu Wijaya (pangkat terakhir letkol), dan Wahyudi (pangkat terakhir letkol). Mereka berperan sebagai tim pelindung. Tugasnya, melindungi Dimas Kanjeng dan keberlangsungan aktivitas padepokan.

Wahyu diangkat sebagai ketua tim pelindung. Pecatan tentara lainnya hanya menjadi eksekutor atau anak buah Wahyu.

Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Taufik Herdiansyah mengatakan, dalam kasus pembunuhan Gani, pihaknya telah menangkap empat tersangka. Selain tiga pelaku di atas, ada seorang bernama Kurniadi.

Menurut dia, berkas empat tersangka itu sudah dianggap sempurna. Karena itulah, kasus mereka disidangkan terlebih dahulu. Sebenarnya Dimas Kanjeng juga masuk daftar yang terlibat pembunuhan Gani. Hanya, berkasnya masih dilengkapi.

Taufik mengatakan, berdasar pengakuan pelaku, Gani dibunuh karena menyelewengkan banyak uang dan tidak sejalan dengan program padepokan. Dia juga dianggap memprovokasi pengikut lain agar tidak percaya kepada Dimas Kanjeng dengan mau menjadi saksi atas laporan penipuan di Mabes Polri.

Karena itu, disusunlah rencana untuk menghabisi Gani. Penyusunan rencana tersebut dipimpin Wahyu Wijaya. Caranya, korban diminta datang ke salah satu rumah di padepokan. ”Alasannya, mau dipinjami uang,” ucapnya.

Korban yang datang dengan naik mobil tidak curiga. Ketika masuk ke rumah tersebut, hanya ada satu orang yang menemui. Saat Gani berbincang-bincang, satu pelaku muncul dari belakang dan memukulkan besi ke tengkuknya hingga terjatuh. Setelah itu, muncul satu pelaku lagi yang menjeratnya dengan tali.

Ketika sudah tidak berdaya, korban ditelanjangi. Wajahnya dilakban dan kepalanya dibungkus plastik. Tubuh Gani kemudian dimasukkan ke kontainer yang sudah disiapkan. Tugas selanjutnya diteruskan anggota lain. Mereka sudah siap di depan rumah tersebut dengan dua mobil. Dengan dua kendaraan itu, pelaku membawa jasad Gani ke Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jateng.

Di salah satu jembatan tidak jauh dari waduk, tubuh korban dikeluarkan dari mobil dan dilemparkan ke sungai. Pelaku kemudian berbalik ke padepokan. Dalam waktu bersamaan, ada pelaku yang bertugas membuang mobil pelaku di Jateng. ”Mobil itu sudah ditemukan,” ucapnya.

Untuk membunuh Gani, tim pelindung mendapat duit Rp320 juta. Uang itu dibagi-bagi sesuai jabatan dan perannya. selaku ketua tim eksekutor, Wahyu Wijaya memperoleh paling banyak.

Taufik menambahkan, saat ini polisi masih memburu empat orang. Mereka diduga terlibat dalam pembunuhan Gani. Namun, keberadaannya belum terlacak sejak polisi mengusut kasus pembunuhan tersebut. (arf/jpg)

Berita Terkait