13 Tahun buat Penghamil Anak Tiri

13 Tahun buat Penghamil Anak Tiri

  Kamis, 30 June 2016 09:33
PERSIDANGAN: JL (membelakangi lensa), pelaku kekerasan seksual terhadap anak tirinya, ketika mengikuti persidangan di PN Ketapang, akhirnya harus menerima putusan 13 tahun penjara dari majelis hakim. KPAD KAYONG UTARA FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

KETAPANG – JL (35) , pelaku pelecehan seksual terhadap puteri tirinya, di Kecamatan Pulau Maya, Kabupaten Kayong Utara, dikenakan hukuman kurungan 13 tahun penjara. Keputusan tersebut diterimanya setelah menjalani sidang putusan dari Pengadilan Negeri (PN) Ketapang, Selasa (28/6).

“Iya benar, sesuai putusan Pengadilan (Negeri) Ketapang, dengan persidangan yang dilaksanakan pada Selasa (28/6) kemarin, hakim telah memutuskan hukuman kurungan penjara selama 13 tahun terhadap tersangka JL, (ayah tiri korban, Red), dari salah satu siswi di Pulau Maya yang kini hamil 6 bulan akibat perbuatan ayah tirinya terhadap dirinya,” terang Syaeful Hartadi, ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Kayong Utara kepada wartawan, kemarin.

Menurut dia, putusan yang ditetapkan oleh hakim sudah cukup berat. Kelakuan tersangka yang tega melakukan perbuatan tidak terpuji terhadap puteri tirinya tersebut, diharapkan tidak terulang kembali di Kayong Utara. “Atas kejadian ini, sesuai dengan apa yang disampaikan oleh hakim kemarin pada persidangan, Indonesia saat ini memang dalam kondisi darurat kekerasan seksual terhadap anak. Satu di antaranya, yang telah terjadi di Pulau Maya. Dan diharapkan hal seperti ini tidak terulang kembali,” harap Syaeful.

Proses persidangan sendiri, menurut dia, dapat berjalan dengan baik, sesuai dengan apa yang diharapkan. Hanya saja, usai persidangan, diakui dia, sempat terjadi keributan kecil, terkait putusan yang diterima tersangka. “Proses persidangan Alhamdulillah dapat berjalan lancar, sesuai dengan apa kita harapkan. Dan untuk keluarga korban dan korbannya pun saya rasa cukup puas atas putusan yang ditetapkan oleh hakim,” ucapnya.

Sementara mengenai korban, Syaeful mengungkapkan jika yang bersangkutan selama ini masih menetap di kediaman bibinya. Sembari menunggu waktu untuk melahirkan, yang bersangkutan, menurut dia, juga disibukkan dengan aktivitas membantu sang bibi membuat kue. Bahkan, dia juga mengungkapkan, korban sendiri masih ingin kembali ke sekolah seperti biasa usai melahirkan nanti.

 “Usai melahikan nanti, kalau memang dapat kembali sekolah, korban sepertinya ingin kembali bersekolah seperti biasa. Itu informasi yang saya dapat tentang korban untuk saat ini. Dan memang saya rasa keinginan untuk kembali belajar masih cukup tinggi didalam dirinya (korban, Red),” terang  Syaeful.

Terkait kejadian ini, dia pun berharap sosialisasi atau pun seperti satgas perlindungan anak di masing-masing desa dapat dibentuk. Dengan demikian, harapan dia, monitoring hingga ke desa-desa dapat terus berjalan. Satgas yang terbentuk juga diharapkan dapat mencegah terjadinya hal serupa kembali terulang. “Jadi memang adanya satgas perlindungan anak di masing-masing desa. Karena untuk kita KPAD sendiri tentunya memiliki keterbatasan tenaga. Dan itu tentunya sangat membatu untuk kita semua,” sarannya. (dan) 

Berita Terkait