100 Tahun Persekolahan Nyarumkop, Kontribusi Alumni Dibutuhkan

100 Tahun Persekolahan Nyarumkop, Kontribusi Alumni Dibutuhkan

  Sabtu, 9 July 2016 12:46
Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis, MH bersama Ketua Komisi Pendidikan KWI Mgr. M. Situmorang, alumni PKN Nyarumkop Adrianus Asia Sidot, Mgr. Agustinus Agus, Ny. Frederika Cornelis, pada acara Temu Agung Alumni PKN di Komplek Persekolahan Nyarumkop, Jumat (8/7)

Berita Terkait

GUBERNUR Kalimantan Barat Drs. Cornelis, MH ketika membuka perayaan syukur 100 Tahun Persekolahan Nyarumkop (PKN) dan Reuni Agung Alumni, di Komplek Persekolahan Nyarumkop, Singkawang (8/7) berharap, dengan 100 tahun PKN, semakin banyak alumni yang berkontribusi agar sekolah ini tetap eksis sesuai cita-cita pendirinya. PKN didirikan untuk membantu masyarakat yang tidak mampu, menyelamatkan mereka dari kebodohan, terutama masyarakat lokal.

"Bapak Ibu yang sudah dididik di persekolahan Nyarumkop berbahagialah. Saya hanya tiga bulan di persekolahan katolik, habis itu 'lari' (pindah ikut orang tua bertugas sebagai polisi). Juga orang tua kami tak mampu memasukan kami di asrama, di Pahauman 6 bulan saja, lambat sikit kami kena pelasah, mana tahan, saya ini sekolah malam, sekolah sore, cuma Tuhan Yesus baik dengan saya masuk perguruan tinggi tidak bayar, sampai saya bisa seperti ini," ungkap Cornelis.

Dirinya juga mengingatkan bahwa, para alumni sekarang sudah punya modal. Jika alumni sepakat dan bersatu menghimpun kekuatan, pikiran tenaga, ongkos dan otot pasti bisa mengembangkan persekolahan ini agar tetap bisa bersaing.

Hadir dalam acara tersebut  Mgr. Martinus Situmorang, Komisi Pendidikan KWI, Ketua Ikatan Alumni Persekolahan Nyarumkop Adrianus Asia Sidot, Ny. Frederika Cornelis, yang juga alumni PKN, para alumni lainnya baik pengusaha yang tersebar di seluruh dunia, pejabat dan politisi serta serta para guru dan pembina asrama.

Dijelaskan Cornelis, para alumni harus memiliki modal dasar yakni iman pengharapan dan kasih, bukan egois, karena umat katolik khususnya suku Dayak ini, kalau tak ada gereja katolik tidak akan seperti ini, Gereja Katolik lah yang membuka mata masyarakat Dayak.

Untuk itu Gereja Katolik memprioritaskan pendidikan dan kesehatan, karena kalau tidak sehat bagaimana mau sekolah dan sukses kemudian memberikan sumbangan. "Anda harus lebih cerdas karena anda bukan dididik hanya mendapatkan ilmu pengetahuan tapi juga pengetahuan injil. Bangun jiwa korsa kalau tidak maka tertindas lagi," terang mantan Bupati Landak itu. Dirinya berharap pula, ke depan PKN  bisa bersaing secara daerah, lokal, nasional maupun internasional.

Cornelis meyakini alumni yang dididik di Nyarumkop mentalnya lebih kuat dan tegar, sehingga dirinya juga mendorong para imam dan pengelola untuk tetap menjaga persatuan umat Katolik, karena pemerintah terbatas dalam hal campur tangan.  "Saya bisa campur tangan dana BOS sudah saya kasih, firman Tuhan mengatakan, mintalah maka kamu akan diberi. Ketuklah maka kamu akan dibukakan. Anda boleh mengajukan secara tertulis," terang mantan Camat Menjalin itu.

Cornelis mengakui sekalipun dirinya tidak dididik secara katolik tetapi tetap peduli dengan umat katolik, alumni APDN itu tidak melihat sebelah mata perkembangan umat beragama di Kalbar.  "Saya tahu posisi saya sebagai umat katolik, kami malah tinggal di antara umat agama lain ketika di Sukadana, pastor lumano dan pastor Kanisius mendatangi kami di Sukadana, mereka datang dari Ketapang. Tapi Bapak saya salah satu yang memperjuangkan hak-hak gereja Katolik. Termasuk rumah sakit Vinsensius (Singkawang), Rumah sakit Antonius, Gereja MRPD, saksi hidup Mgr. Hieronimus Bumbun."Beber Cornelis.**

Berita Terkait