’’Saya Bukan Pelakunya’’

’’Saya Bukan Pelakunya’’

  Kamis, 28 January 2016 08:02

Berita Terkait

Ada dua orang yang bersama Wayan Mirna Salihin saat dia minum kopi, kejang-kejang, kemudian tewas di Kafe Oliviera, 6 Januari lalu. Keduanya adalah Hani dan Jessica Kumala Wongso. Namun, sorotan media dan pengusutan polisi lebih banyak mengarah kepada Jessica. Berikut petikan wawancara dengan Jessica Kumala Wongso.

Banyak yang menduga dan mengarahkan Anda terlibat dalam kematian Mirna. Kok Anda sangat tenang?
Saya pertamanya takut. Apalagi sebelum didampingi kuasa hukum. Tetapi, sekarang mereka (kuasa hukum) meyakinkan saya bahwa saya tidak salah. Jadi, tidak usah takut. Sekarang kan saya ke mana-mana didampingi terus.

Salah satu indikasi keterlibatan Anda adalah Anda terlihat paling tenang saat kejadian. Padahal, orang-orang di sekitar saat itu panik?

Informasi itu tidak benar. Saya waktu itu juga panik sekali.

 

Anda diduga pernah punya hubungan spesial dengan Mirna. Apakah benar Anda suka sesama jenis?

Saya pernah punya beberapa pacar, tetapi sekarang memang lagi jomblo. Pacar saya selama ini laki-laki kok. Saya tidak tertarik pada perempuan.

 

Anda perlu meyakinkan publik bahwa Anda memang normal. Sebenarnya kriteria pria seperti apa yang Anda sukai?

Ya pria yang baik, ambisius, dan punya karir. Tetapi, intinya, asal orangnya baik saja.

 

Sebenarnya sejak kapan Anda mengenal Mirna?

Sejak sama-sama kuliah di Australia.

 

Bagaimana Anda melihat sosok dia?

Kami bersahabat cukup baik. Dia itu orangnya baik, lucu, generous (dermawan), dan tidak aneh-aneh. Yang saya tahu, dia itu sangat sayang keluarganya. Dia juga kreatif banget. Saya suka gaya desainnya, keren dan tidak norak.

 

Sebenarnya seperti apa kedekatan Anda dengan Mirna selama ini?

Ya, kami teman kuliah. Waktu di Australia, kami suka pergi makan bareng, melakukan hal-hal sewajarnya sebagai anak kuliahan. Pernah belajar bareng juga. Tetapi, kalau dibilang kami sahabat dekat, tidak juga. Kami tidak setiap hari ngobrol atau curhat yang mendalam. Ya, cuma teman.

 

Punya kenangan yang tak terlupakan dengan Mirna?

Ya, saat kami wisuda bareng-bareng. Selain itu, saat senang-senang ketika masih kuliah. Namanya anak kuliahan, kan masih sering happy-happy.

 

Waktu di Australia pernah tinggal di tempat yang sama dengan Mirna?

Tidak. Saya tinggal dengan kakak saya dan dia bersama saudaranya.

 

Anda berasal dari jurusan yang sama?

Sama-sama di Billy Blue College of Design (sekolah desain di Sydney, Australia), tetapi beda jurusan. Saya multimedia, sedangkan dia desain grafis.

 

Karena sama-sama orang desain, apa pernah punya proyek bareng Mirna?

Tidak ada. Kami juga tidak pernah sekelas.

 

Kapan Anda berpisah dari Mirna?

Setelah wisuda delapan tahun lalu, dia memilih pulang dan saya menetap di sana untuk bekerja. Tetapi, setelah itu dia juga pernah main ke Sydney.

 

Apakah benar Anda punya grup WhatsApp dengan Mirna?

Iya, tetapi itu saya buat setelah saya sampai di Indonesia. Sebelum itu, saya paling kontak chat saja, tidak pernah saling telepon.

 

Apa yang Anda obrolkan dengan Mirna saat itu?

Ya tanya kabar saja. Tidak ada komunikasi panjang lebar.

 

Anda kenal dekat dengan suami Mirna?

Sekadar kenal iya, tetapi bukan teman. Saya kenal dia sebelum mereka menikah. Pertemuan saya dengan dia juga selalu bersama Mirna. Saya jarang bertemu dia. Sebab, kalau tidak salah, dia dulu tinggal di Melbourne.

 

Kalau hubungan Anda dengan Hani, bagaimana?

Ya sama saja seperti saya dengan Mirna.

 

Anda yakin Mirna dibunuh?

(Diam sejenak) saya berharap polisi bisa mengungkap perkara ini.

 

Apa harapan Anda?

Polisi segera menangkap pembunuhnya kalau memang itu pembunuhan.

 

Kalau Anda yang ditersangkakan?

Saya bukan pelakunya

 

Tetapi, kan dugaan-dugaan mengarah kepada Anda?

Saya bukan pelakunya. Saya menyerahkan sepenuhnya kepada polisi. Saya selama ini kooperatif. Semua yang saya tahu sudah saya sampaikan kepada polisi. (gun/c5/kim)

 

Berita Terkait