“Masuk Angin”

“Masuk Angin”

  Selasa, 24 May 2016 09:10   965

Oleh: Hariyadi Eko Priatmono 

KASUS kejahatan seksual semakin menggila. Satu persatu korbannya terungkap dan satu persatu pula pelakunya berhasil ditangkap. Predator anak itu dipastikan mendekam di jeruji besi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya dan keberhasilan polisi dalam mengungkap dan menangkap perlu diapresiasi.

Kasus kejahatan seksual itu pun kerap menjadi berita besar dan menghebohkan. Sebut saja, YY, yang menjadi korban pemerkosaan disertai pembunuhan oleh 14 orang. Yy pun seolah menjadi titik pergerakan sejumlah orang untuk menyuarakan menghukum seberat-beratnya pelaku kejahatan seksual, mulai hukuman mati hingga kebiri. 

Di Kalimantan Barat sendiri, sejumlah kasus kejahatan seksual kerap terjadi. Yang paling heboh adalah kasus pemerkosaan disertai pembunuhan yang dialami siswi SMK Negeri 1 Mempawah beberapa tahun silam, Harnovia. Kasus ini pun membuat heboh masyarakat, pasalnya bukan hanya pada kasusnya tetapi penanganannya. 

Dimana isu yang berkembang ditengah masyarakat, bahwa kepolisian diduga telah merekayasa para pelaku pemerkosa dan pembunuhan gadis cantik tersebut dengan cara menangkap dua orang warga yang tidak tahu menahu. Entah benar atau tidak terjadi rekayasa yang jelas hingga kini kedua orang tersebut telah divonis penjara selama 14 tahun. 

Kedua tersangka yang hanya bekerja sebagai buruh itu pun kini harus merasakan dinginnya jeruji besi. Namun, ternyata hukum tak selamanya menegakkan keadilan, atau mungkin benar kata orang-orang jika hukum itu hanya tajam di bawah tumpul di kalangan berduit. 

Sepertinya opini masyarakat itu benar adanya, bagaimana tidak seorang bos perusahaan sawit di Kabupaten Landak, berinisial Sb, yang terlibat kasus eksploitasi ekonomi dan perdagangan anak divonis bebas oleh majelis hakim di Pengadilan Negeri (PN) Pontianak. Kabar yang sangat mengejutkan, disaat semua mata rakyat menyuarakan hukum seberat-beratnya pelaku pencabulan, persetubuhan, dan pemerkosaan terhadap anak, di Pontianak pelakunya malah divonis bebas. 

Jika kabar bebasnya bos sawit tersebut benar adanya, maka ini jelas telah mencoreng citra penegakan hukum di Kalbar. Para penegak hukum, yang diberi kewenangan oleh negara dan memiliki tanggungjawab terhadap Tuhan telah “masuk angin” sehingga matanya telah buta dalam menegakan keadilan. 

Lalu benarkah bahwa hukum itu kebal bagi mereka yang berduit, kebal bagi mereka yang memiliki kekuasan, dan kebal bagi mereka yang dekat dengan penegak hukum. Jika ini benar adanya, maka disinilah matinya hati nurani penegak hukum. Ya, mereka sudah tidak memiliki hati, tak memiliki akal, karena tidak mampu melihat kebenaran dan keadilan secara hakiki. 

Biarkan saja mereka bermain dengan amanah yang telah diberikan, biarkan saja mereka tidur nyenyak di kasur dengan harga puluhan juta rupiah, dan biarkan saja mereka hidup dengan kegemilangan harta karena semuanya tentu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Dan kita, sebagai rakyat terpinggirkan ini harus tetap optimis dan yakin bahwa jika memang ada penegak hukum yang bermain mata dengan para terdakwa kejahatan seksual, mereka hanyalah oknum yang memanfaatkan kekuasannya demi kepuasan semata. 

Sudah saatnya eleman masyarakat ikut mengawal kasus-kasus kejahatan seksual yang terjadi di sekitarnya. Mengawal, proses penegakan hukumnya agar tidak bermain mata dengan pelakunya. Memanfaatkan semua sumber daya yang ada, demi tegaknya hukum. Kita beruntung saat ini di Kalbar telah ada lembaga Penghubung Komisi Yudisial (KY) di Kalbar. Lembaga ini tentu dapat dimanfaatkan untuk melaporkan para hakim yang diduga bermain mata dalam sebuah perkara. 

KY pun diharapkan tak hanya menunggu bola. Tentu lembaga terhormat ini dapat tanggap mengawasi sebuah perkara yang menjadi perhatian publik, sehingga keberadaannya benar-benar bermanfaat untuk mengawasi perkara-perkara di PN Pontianak yang mungkin telah disusupi kepentingan-kepentingan rupiah  

Seperti kasus bos sawit tadi, yang telah membeli seoarang anak untuk dinikmati tubuhnya, namun divonis bebas. Oleh karena itu, sepak terjang KY pun ditunggu untuk menegakkan keadilan bagi rakyat yang tertindas, bukan hanya menjadi simbol tak bergerak yang keberadaannya hanya menjadi pelengkap. 

KY diharapkan berani melaporkan oknum-oknum hakim yang mulia itu ke Mahkamah Agung (MA) jika terbukti telah melanggar kode etiknya. Dan MA pun harus berani mengambil tindakan tegas terhadap jajarannya yang terbukti melakukan pelanggaran. 

Mari, semua pihak kembali menjalankan tugas dan amanahnya dengan mengedepankan hati nurani. Tangkap pelakunya, kenakan pasal yang sesuai dengan undang-undang lalu vonislah seberat-beratnya dengan bukti-bukti yang telah ada. Bukan sebaliknya, malah membebaskan pelaku kejahatan seksual. 

Yang harus diingat oleh penegak hukum adalah, andaikan korban kejahatan seksual itu adalah anak perempuan atau saudara perempuan anda. Tentu hati anda akan terbakar emosi, tersulut amarah untuk memukul palu sidang dengan keras dan mengucapkan dengan lancing vonis yang setimpal dan memuaskan hati anda. 

* Calon Ketua AJI, wartawan dan alumni HMI