“Indonesia Apa Program mu?”

“Indonesia Apa Program mu?”

  Sabtu, 20 February 2016 09:40   850

Oleh: Rio Parera, S.Pd

Alumnus FKIP Untan (Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia)

(Tenaga pengajar di Yayasan Pelayanan Kasih Fatima (YPKF) Ketapang)

 

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa musim hujan identik dengan “musim banjir” dan “musim demam berdarah”. Kedua bencana itu muncul tidak terlepas dari adanya sampah di muka bumi ini. Sampah menjadi masalah bagi manusia karena ‘kehadirannya” dapat mengancam kelangsungan hidup manusia.

 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sampah adalah barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi. Sampah saat ini memiliki arti yang lebih luas lagi. Sampah bukan hanya berarti benda atau barang yang dibuang karena tidak terpakai lagi, sampah juga berarti bencana yang sewaktu-waktu dapat mengancam kelangsungan hidup makhluk hidup terutama bagi manusia. Secara umum bencana sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan longsor tumpukan sampah, sumber penyakit, pencemaran lingkungan, dan menyebabkan banjir.

 “Kehadiran” sampah  yang dianggap bencana itu tidak terlepas dari hukum sebab-akibat. Hujan datang maka banjir juga “datang”. Banjir muncul kepermukaan juga tak terlepas dari menumpuknya sampah di sungai, parit-parit, dan selokan. Semuanya itu menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ada hujan, air sungai melimpah, dan akan meluap karena laju arus sungai terhambat oleh banyaknya sampah di sungai.

 Pasca banjir akan lebih berbahaya lagi karena genangan air di sekitar pemukiman penduduk akan menjadi sarang nyamuk sehingga akan menimbulkan berbagai macam penyakit. Penyakit yang paling mengerikan adalah penyakit demam berdarah. Penyakit ini menjadi momok yang menakutkan  setiap tahunnya di negeri ini.

Terlepas dari masalah bencana akibat sampah di atas, Caren Trafford dalam bukunya yang berjudul world wide waste mengatakan bahwa sesungguhnya sampah di muka bumi tidak pernah ada. Menurutnya, di alam semesta ini tidak ada benda yang bisa disebut sampah. Artinya, Caren memaparkan secara logis (berdasarkan logika) bahwa semua jenis sampah yang ada merupakan  olahan yang dibuat oleh manusia modern dengan segenap kemampuan dan kecanggihan teknologi yang ada. Namun, ditegaskannya pula bahwa sampah yang dihasilkan dari berbagai produk buatan manusia itu berasal dari “perut” yang sama yaitu perut bumi. Intinya, barang yang dari alam pasti akan kembali ke alam melalui proses daur ulang. Dengan kata lain, Caren mau mengatakan bahwa tidak ada satu pun benda atau barang di dunia ini yang tak bisa terurai melalui proses daur ulang.

Dalam pemikiran secara logika pendapat Caren mungkin dapat dibenarkan. Hanya saja yang jadi persoalan sampah saat ini adalah sampah anorganik (sampah kering) dan sampah berbahaya seperti baterai, jarum suntik, dan botol bekas anti nyamuk. Kedua jenis sampah ini memerlukan waktu yang sangat lama untuk terurai. Seberapa lama sampah jenis ini dapat terurai atau didaur ulang secara alamiah oleh alam?

Mengutip pendapat Arif Hartoyo seorang Ahli Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (dalam makalah Sejarah dan Perkembangan Plastik yang ditulis Victor Rizal Filosofi) dipaparkannya bahwa limbah plastik dapat terurai setelah 1.000 tahun sedangkan limbah kertas hanya membutuhkan waktu sebulan untuk terurai. Selain itu menurutnya, plastik juga mengandung bahan kimia yang berbahaya, yakni Bisphenol A alias BPA. Bahan kimia ini dapat merangsang pertumbuhan sel kanker serta memperbesar risiko keguguran pada ibu hamil. Singkatnya, tak hanya bisa mencemari lingkungan, plastik juga berpotensi mengancam kesehatan manusia. Oleh karena itu, saat ini banyak negara mulai mengurangi penggunaan plastik. Misalnya di China. Sejak 1 Juni 2008 lalu, pemerintah China mewajibkan warganya membungkus barang belanjaan dengan kertas. Kecemasan pemerintah Negeri Tembok Raksasa ini cukup beralasan. Sebab, penelitian di negeri itu menunjukkan bahwa penggunaan kemasan plastik untuk makanan dan minuman dapat mengganggu kekebalan tubuh manusia.

Dalam artikel di issue of nature yang berjudul Waste Production Must Peak This Century karya Dan Hoornweg, Perinaz Bhada-Tata, dan Chris Kennedy disebutkan bahwa sampah di negara-negara Asia-Pasifik akan mencapai puncaknya pada tahun 2075. Oleh karena itu, tak sedikit negara-negara yang telah mulai menerapkan sistem penanggulangan sampah dengan serius. San Francisco, misalnya, memiliki tujuan ambisius dengan program zero waste. Kota ini melakukan daur ulang secara agresif dengan target  tahun 2020 dapat  mendaur ulang sekitar 55 persen sampah.

Jean Francois Noblet dalam buku terjemahan yang berjudul Sampah terbitan Erlangga mengatakan, negara maju mulai berusaha mengurangi jumlah sampah dengan mendaur ulang sebanyak mungkin sampah yang masih bisa didaur ulang. Menurut Jean, Negara Prancis sejak tahun 1960 memberlakukan botol susu isi ulang. Orang di Prancis tidak diperbolehkan membuang botol susu dan harus membawanya saat ingin membeli susu. Orang yang menghilangkan botol susunya akan dikenakan denda. Masih menurut Jean Francois Noblet, setiap tahunnya, orang-orang di Prancis dapat menghasilkan sampah yang beratnya sama dengan 2.500 kali menara Eiffel. Jadi, jika tidak mau hidup berdesak-desakan dengan sampah, sebaiknya semua penduduk bumi mulai bertindak.

Lantas seperti apa tindakan nyata penanggulangan sampah di negeri kita? Siapkah kita menyongsong tahun 2075 yang disebutkan dalam artikel di issue of nature sebagai tahun dari memuncaknya jumlah sampah di kawasan Asia-Pasifik? Sejauh mana pengajaran tentang bahaya sampah di sekolah-sekolah kita? Apakah perlu pelajaran tambahan bagi siswa-siswi di sekolah terkait bahaya sampah di masa mendatang? Mungkin kita bisa bertanya pada diri kita sendiri. Misalnya dengan “wahai Indonesia apa program kepedulian mu terhadap sampah?” “Sudahkah negeri ini bersiap untuk tahun 2075?” Mari kita sama-sama mencari jawabannya dengan berpikir, memahami, dan bertindak demi masa depan yang lebih baik, bersih, dan sehat.