“Cetak” Uang dari Batako

“Cetak” Uang dari Batako

  Senin, 7 December 2015 08:26
MENYUSUN BATAKO:Pekerja menyusun batako saat menyelesaikan pesanan pelanggan. Tingginya pembangunan perumahan membuat usaha ini kian banyak digeluti masyarakat. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Pembangunan perumahan kian pesat. Ini sejalan dengan kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal. Ternyata ini juga memberikan keuntungan pada sektor lain. Misalnya pemilik usaha cetak batako. Permintaan yang tinggi, membuat mereka mendapatkan omset yang tidak sedikit. Ramses L Tobing
SALAH satu yang mengambil peluang ini adalah Syarief Dian Hidayat. Usianya memang baru 21 tahun. Tapi dia sudah mengantongi omset yang tak sedikit. Kemilau Abadi nama usahanya. Berdiri sejak Mei 2015.“Sekarang pembangunan sedang berkembang pesat. Termasuk di Kota Pontianak. Tentunya ini membutuhkan batako, pasir, semen dan lain-lain. Peluang ini saya ambil untuk dijadikan ladang usaha,” kata Dayat, kepada wartawan koran ini.
Promosi pun dilakukan untuk mengenal produk yang dihasilkan Kemilau Abadi. Pemasaran dengan menawarkan langsung produk ke pelaku usaha properti. Jika terjadi kerja sama maka maka pembayarannya menggunakan sistem tempo. Paling lama satu bulan. Namun itu untuk pelanggan tetap dan sesuai kesepakatan.Hanya saja pelanggan Dayat tidak hanya dari pelaku usaha properti saja. Justru ada dari masyarakat biasa yang membutuhkan batako untuk pembangun rumah.
Karena itu, dia menilai respon pasar cukup bagus meskipun usaha ini baru berdiri beberapa bulan. Apalagi dia tidak hanya menjual batako. Ada pasir, kerawang, gorong wc, gorong cor, tempayan dan semen. “Untuk batako ada yang biasa dan ada yang pres,” kata dia.Dayat mengaku persaingan antar pelaku usaha tetap ada. Apalagi usaha serupa juga banyak di Kota Pontianak dan sekitarnya. Strategi yang digunakannya dengan menjamin kualitas produk, tapi dengan harga yang terjangkau. Termasuk juga sistem pembayaran kerjasama.
Persaingan itu dianggap bukan sebagai kendala. Melainkan motivasi untuk menjadi pemenang dalam pemasaran. Karena berbagai strategi harus dipersiapkan. Dari menjual produk berkualitas hingga mendatangi konsumen.“Tanpa berharap konsumen datang, tetapi kami datang kepada mereka. Paling penting pelayanan yang baik dan memuaskan,” kata Dayat.
Dari strategi ini dalam sehari Dayat bisa menjual 2000 batako. Sedangkan  dalam sebulan orderan yang biasa diterimanya sekitar 30.000 batako.
Ada juga Ismail yang melakoni hal serupa. Usaha ini sudah berjalan sejak tahun 2010. Selain karena bisnis, pria yang sehari-harinya mengajar ini memiliki alasan lain membuka cetak batako.Menurutnya usaha ini menjadi perberdayaan anak-anak muda di sekitar tempat tinggalnya agar tidak melakukan hal-hal negatif. Terlebih lagi mereka yang tidak memiliki pekerjaan.Sejauh ini memang respon pasar cukup baik. Ini seiring dengan meningkatnya pertumbuhan bangunan. Tidak hanya di Kota Pontianak tapi juga dikawasan Kubu Raya. Permintaan kebutuhan material bangunan sangat tinggi.
Hanya saja, Ismail mengakui yang menjadi persoalan adalah modal. Ini karena ada pelanggan yang terlambat membayar. Padahal modal itu menjadi kunci utama untuk diputar kembali agar bisnis bisa tetap jalan.“Persaingan cukup ketat, karena usaha yang serupa cukup banyak. Sebagai pelaku usaha tetap mengedepankan kualitas dan pelayanan. Untuk nilai omset relatif, setidaknya usaha ini memberikan hasil yang maksimal buat saya dan pekerja,” pungkasnya.**

 

Berita Terkait