“BUTA DAN TERKURUNG”

“BUTA DAN TERKURUNG”

  Rabu, 10 February 2016 08:35   924

Oleh: Yohanes Fakundus, S.Fil  PADA suatu hari, penulis pergi ke suatu kampung yang bernama kampung Terusan. Kampung tersebut terletak di Kecamatan Bonti. Kecamatan Bonti merupakan wilayah Kabupaten Sanggau. Saat melihat-lihat situasi dan kondisi kempung Terusan, penulis teringat salah satu penyakit manusia yang biasanya disebut buta. Buta adalah suatu kondisi dimana mata manusia tidak dapat lagi dipergunakan untuk melihat.

Berdasarkan Kondisi tidak dapat melihat tersebut penulis menjadikannya sebagai analogi bagi situasi dan kondisi masyarakat di kampung Terusan. Akan lebih mengambarkan situasi dan kondisi masyarakat di Kampung Terusan, penulis juga mengambarkannya dengan kata terkurung. Terkurung adalah kondisi tertutup dalam ruang tertentu. Jika kita kaitkan dengan situasi dan kondisi masyarakat maka kata terkurung tersebut akan mengambarkan keadaan suatu kondisi geografis yang jauh dari peradaban yang layak dan seharusnya mereka peroleh sabagai warga negara.

Berdasarkan kondisi “buta” dan terkurung, jika kita kaitkan dengan pola kehidupan masyarakat di Kampung Terusan maka situasi dan kondisi Kampung Terusan berada dalam keadaan yang “buta” akan realitas yang seharusnya mereka ketahui yaitu tentang kelayakan hidup yang harus mereka terima sebagai masyarakat Indonesia. Akan tetapi, kelayakan itu bukan berarti bahwa hidup yang mereka alami kurang layak sebagai masyarakat yang hidup di Kampung Terusan. Dari keadaan keadaan kampung tersebut, penulis berefleksi tentang hak HAM (Hak Asasi Manusia). Hak asasi manusia adalah hak yang telah di dimiliki seseorang sejak ia di dalam kandungan. Tidak seorangpun dapat merebut hak tersebut dari orang lain. Hak tersebut bukan pemberian dari siapapun. HAM diperoleh dari Sang Penciptanya. Karena berasal dari penciptanya, tidak seorang pun dapat merebutnya dari setiap pribadi.

 

PBB Secara Khusus Merumuskan HAM adalah Sebagai Berikut:

 

Hak untuk hidup
Hak untuk merdeka dan keamanan badan
Diakui kepribadiannya
Memperoleh pengakuan yang sama dengan orang lain menurut hukum untuk mendapat jamainan hukum dalam perkara pidana, seperti diperiksa di mika umum, dianggap tidk bersalah kecuali ada bukti yang sah.
Masuk dan keluar wilayah suatu negara
Mendapat asylum (perlindungan bagi narga negara asing)
Mendapat suatu kebangsaan
Mendapat hak milik atas harta benda
Bebas mengutarakan pendapat
Bebas memeluk agama
Mendapat jaminan sosial
Mendapat pekerjaan
Bebas berdagang
Mendapat pendidikan
Turut serta dalam gerakan kebudayaan masyarakat
Menikmati kesenian dan turut serta dalam kemajuan keilmuan

 

 

Di Indonesia, HAM termuat dalam rumusan Pancasila. Berdasrkan Pancasila HAM dijunjung tinggi. Negara Republik Indonesia menjunjung tinggi HAM dengan melakukan berbagai hal seperti melindungi, menghormati, menyejahterakan, memberi kebahagian, mencerdaskan dan adil dalam segala hal. Melalui pancasila, di Indonesia HAM harus dilindungi, dihormati dan ditegakan demi kemanusiaan. Negara Indonesia secara khusus merumuskan perlindungan HAM dalam Undang-Undang Dasar 1945 seperti ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia.

Berdasarkan rumusan-rumusan HAM tersebut, jika kita kembali pada situasi dan kondisi Kampung Terusan maka, terdapat suatu kejanggalan pada kehidupannya. Beberapa relaitas kemiskinan, kurangnya perhatian pemerintah, terjadi ketidakadilan pada hal SMD sehingga berdampak pada lambanya perkembangan dan mobilitas perekonomian, kurang mendapat perhatian pada aspek kesehatan, kesejahteraan dan perlindungan atas hak milik pribadi dari perusahaan-perusahaan sawit.

Berikut beberapa foto situasi dan kondisi kampung Terusan. Beberapa foto berikut ini adalah perumahan penduduk, jalan dan jembatan yang menjadi sarana untuk pergi ke kampung terusan.  Penulis ambil foto-foto tersebut ketika berkunjung ke kampung Terusan.

 

 

 

 

 

 

 

Oleh: Yohanes Fakundus, S.Fil.

E-mail :  johnpr_betangsgu@rocketmail.com